Perempuan itu tersenyum. Dia pun duduk dengan tenang dan limpahan sinar dari malam hari menyertai sosoknya yang jelita. Celah pintu sorong di ruang kerja Nakashiwa terbuka untuk membiaskan cahaya malam pada Kumiko.
Kumiko Tomie tak keberatan memperlihatkan leher mulus dan sebagian pundaknya untuk dilukis Nakashiwa. Meski terkesan sia-sia, sebab Kumiko akan dilukis dalam gaya Nanga yang begitu sederhana.
Nakashiwa tercengang ditampakkan keindahan yang bagi dirinya seperti bunga-bunga di kuil sekitar tempat dia tinggal itu. Nakashiwa tak dapat menghentikan tangannya yang bergerak sendiri untuk memegang kulit leher dan pundak Kumiko Tomie. Tangan kasap Nakashiwa bertaut kulit mulus sang perempuan muda.
“Ada apa?” tanya Kumiko.
“Kau indah sekali.”
Hanya itu yang bisa dikatakan Nakashiwa. Kumiko Tomie tersenyum tipis setelah menoleh menatap tangan Nakashiwa yang menyentuhnya. Tak ada tatapan jijik pada perempuan itu sebab dia berkeinginan menjadi model.
Nakashiwa mengenyahkan maksud jahat dalam dirinya dengan menggeleng sekuat mungkin. Menggusah pikiran yang ke mana-mana. Dia melepaskan tangannya dari kulit indah itu dan kembali tenang untuk melukis Kumiko.
Nakashiwa membuat lekuk tubuh, pandang mata, dan bentuk wajah Kumiko sehati-hati mungkin. Sesekali matanya bergantian memandang antara kanvas dan model di hadapannya. Dia terpesona, tak ragu memperlihatkan ketakjuban itu. Sesekali jakunnya naik-turun menelan ludah saking menawannya model di depannya tersebut. Nakashiwa berpikir, dari semua perempuan yang pernah dilukisnya, hanya Kumiko Tomie yang paling cantik.
Kimono yang dikenakan perempuan itu sangat luar biasa. Warna merahnya seperti shidare sakura. Mengingat kenyataan bahwa perempuan ini muncul sendirian ke rumah Nakashiwa tanpa celaka sungguh suatu keajaiban. Perempuan secantik Kumiko bisa saja terkena bencana kalau berjalan sendiri pada malam hari seperti ini. Nakashiwa tentu sangat berterima kasih Kumiko mau menjadi modelnya dan mempertaruhkan diri sendiri untuk datang ke tempatnya. Kecantikannya akan menarik siapa pun, dia meyakinkan hal ini. Nakashiwa sendiri sudah terjerat tadi.
Lukisan itu selesai dengan sempurna. Mereka mengerjakannya hingga dini hari.
“Bagaimana menurutmu?”
“Bagus sekali. Aku senang kau melukisku.”