Perempuan Lukisan Nanga

“Tunggu sampai besok. Besok malam aku akan datang ke sini. Pakaianku kurang bagus untuk lukisanmu.”

“Padahal kau sudah mengenakan kimono yang bagus.”

“Menurutku ini kurang pantas.”

Nakashiwa tak membalas perkataannya. Kumiko Tomie pun beranjak dari rumah Nakashiwa setelah mengucapkan permintaan itu. Kumiko sendirian berjalan pulang dan sosok rampingnya menghadap ke Nakashiwa yang telah ditinggalkan, kian jauh dan menjauh, diliputi bunga-bunga sakura merah yang mengalun-alun terkena angin.

***

Kumiko Tomie meninggalkan kesan mendalam pada Nakashiwa sang pelukis. Bahkan saat dia berjalan ke pemandian umum di ujung desa, ingatan akan Kumiko Tomie dan keinginannya untuk dilukis begitu menyita perhatian Nakashiwa sampai dia lupa sesaat tengah berjalan ke pemandian. Lamunannya terputus setelah ditegur salah satu tetangga.

Nakashiwa pulang lalu salin dengan kinagashi coklat polos dan duduk di depan meja kerjanya beberapa lama sambil sesekali memandang bulan yang malam itu terang benderang. Karena gelisah, dia membuka lebar-lebar pintu sorong yang menghadap sinar rembulan tersebut. Dia keluar dari tempat kerjanya dan duduk di depan taman. Lentera tua yang sudah ada di sana dari generasi demi generasi keluarganya menyita perhatian Nakashiwa. Dia melamunkan pertemuan dengan Kumiko Tomie dengan memandang lentera batu itu.

Semalaman Nakashiwa tak dapat tidur. Dengan asal-asalan, dia menggambar bulan dan kolam di depannya. Pikirannya tak bisa tenang barang sejenak.

***

Pintu rumah Nakashiwa terbuka lebar dan menunggu kedatangan Kumiko Tomie. Malam tiba begitu cepat, tapi bagi Nakashiwa terasa lambat. Dia merasa menunggu begitu lama. Saat larut dalam penantian itulah, Kumiko Tomie muncul, mengenakan kimono terbaik.

“Kau sudah menungguku?”

“Ya, sedari tadi.”

“Maaf.” Kumiko tersenyum. Senyum yang mendaratkan gelisah pada diri Nakashiwa.

Nakashiwa mempersilakan Kumiko masuk. Dia sudah menyiapkan semua.

“Kau duduk di sana. Dan aku akan mulai melukismu.”

Arsip Cerpen di Indonesia