Mak Unyiang menjelaskan, bahwa sebanyaklima puluh juta rupiah dari uang hilang itu, untuk penebus pegang gadai sawah dan ladang. Ketika calon suami si Upik masukpolisi, uang hilang-nya lima puluh juta rupiah. Karena uang kontan sebanyak itu tidak ada, mamaknya menggadaikan sawah dan ladang dengan emas senilai lima puluh juta rupiah.
“Banun, calon suami si Upik itu, telah banyak ditanya orang. Kalau ada uang sebanyak yang mereka minta, setujuinya sajalah. Setelah resmi jadi menantu, kalian tidak tinggal di gubuk lagi, tetapi di asrama polisi, atau rumah Perumnas,” tukasMak Unyiang.
“Mak Unyiang, uang sebanyak itu memang telah ditransfer si Ujang. Tetapi sepertiganya untuk ongkos Banun Naik Haji ke Mekah.”
“Kerja baik jangan ditunda. Banun, musyawarah lah dengan si Ujang. Ibu naik Haji ke Mekah, atau adik bersuami seorang polisi?” kata Mak Unyiang.
“Baik. Munyiang tunggu informasinya,”kataTek Banun.
Kemudian, via video call, Tek Banunmenyampaikan dua pilihan itu kepada si Ujang. Si Ujang memilih adiknya bersuamikan seorang polisi. Untuk biaya nikah dan makan-minum setelah doa selamat, ia transfer kembali uang dua setengah juta rupiah.
Karena berjanji, setahun setelah adiknya menikah, mentransfer uang ke rekening Si Upik untuk biayanya Naik Haji ke Mekah, Tek Banun mendukung keputusan si Ujang itu. Selanjutnya, ia beri tahu Mak Unyiang, bahwa si Ujang setuju.
***
Jika si Ujang benar-benar pulang, berarti untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu pergi merantau, Tek Banun melihat kembali wajah anak sulungnya itu.
Lima tahun lalu, tiga bulan setelah menerima ija zah Tsanawiyah, si Ujang minta izin untuk pergi merantau. Tek Banun enggan mengizinkan, karena sejak ayahnya meninggal, si Ujang ikut membantu menuai sawah orang. Dari hasil menerima upah ke sa wah itulah, Tek Banun menghidupkan dan menye kolahkan anak-anaknya.
Akhirnya Tek Banun mengizinkan, bukan karena si Ujang berjanji setiap bulan akan mentransfer uang ke rekening si Upik, melainkan karena sudah tiga kali si Ujang bersujud di kakinya, memohon diizinkan pergi merantau.
Si Ujang menepati janjinya. Setiap bulan ia transfer uang ke rekening adiknya. Jumlahnya memadailah untuk biaya hidup seharihari dan menyekolahkan si Upik hingga akhirnya (sesuai pesan si Ujang) tamat Aliyah. Tetapi kerinduannya bertemu langsung si Ujang, tidak pernah kesampaian.
***