Di depan pintunya, berdiri dua orang bintara Hulubalang Kamtibmas.
“Ibuk emak si Ujang?” tanya salah seorang bintara Hulubalang Kamtibmas itu.
“Ya,” jawab Tek Banun.
“Silahkan masuk.”
Tek Banun pun masuk. Di sebuah dipan, tampak terbujur tubuh seseorang yang ditutup dengan kain.
Teman si Ujang membuka bagian kepalanya.
Tek Banun mengucap Astagfirullah. Rupanya, yang terbujur itu anaknya, si Ujang.
Tek Banun menangis sejadi-jadinya. Ia panggil nama si Ujang berulangkali.
Si Ujang yang terbujur kaku itu, tampak membuka matanya.
“Mak, si Ujang, masih hidup,” kata tukang Ojek teman si Ujang.
Tek Banun menghentikan tangisnya. Lalu, ia usap wajah si Ujang.
“Mak, maafkan Ujang Mak. Demi membahagiakan Mak dan si Upik, Ujang mengambil jalan pintas. Uang yang Ujang kirim sejak merantau, hasil merampok kedai emas orang,” kata si Ujang lirih.
“Kami terpaksa menembak si Ujang. Ia sudah lima tahun lebih masuk DPO curas,” kata bintara Hububalang Kamtibmas tadi.
Tek Banun menggengam erat tangan si Ujang yang telah dingin. “Ujang tidak ada salah kepada amak. Amaklah yang salah sehingga nasib Ujang begini,” kata Tek Banun.
“Mak, maafkan Ujang ya Mak,” kata Ujang terbata-bata.
Tek Banun menganggukkan kepalanya. Si Ujang tersenyum. Lalu, kedua matanya menutup kembali.
“Akhirnya, kau pulang juga anakku, bukan untuk menikahkan adikmu, tetapi membawa mayatmu untuk amak,” kata Tek Banun.*
Lubuk Alung, Nop 2017
(Footnotes)
[1] uang hilang = uang untuk pemikat keluarga calon mempelai pria
[2] penghulu = pemimpin suku di Ranah Minang