Mungkinkah Kebahagiaan Ketiga Itu Akan Hadir

“Astagfirullah! Ada apa dengan si Ujang?”

“Nanti Etek akan tahu juga,” kata teman si Ujang.

Tek Banun segera turun dari gubuknya. Tamu dan undangan berkerumun di depan pintu gubuknya.

Tek Banun memandang ke pintu gubuknya.

“Pak KUA, tunggu sebentar. Saya menjemput si Ujang,” kata Tek Banun.

“Silahkan. Kami tunggu.”

Teman si Ujang menghidupkan motor Ojeknya. Setelah hidup, Tek Banun duduk bergonceng di belakang teman anaknya itu.

Teman anaknya segera melarikan Ojeknya. Setiba di kuburan umum Nagari Pungguang Kasiak, menda dak mesin Ojek mati. Tek Banun dan teman si Ujang, turun.

Sambil menunggu teman anaknya memperbaiki me sin Ojeknya, Tek Banun duduk di atas sebuah kuburan yang sudah disemen.

Setelah membaca batu nisannya, rupanya kuburan ayah si Ujang yang meninggal enam tahun lalu karena sakit TBC.

Teman si Ujang menghidupkan mesin motor Ojek nya. Mesinnya, tidak hidup juga.  Sebuah Ojek yang kosong penumpangnya, lewat di depan mereka. Walaupun hatinya ingin segera berjumpa dengan si Ujang, ia urungkan menyetopnya.

Tek Banun merasa berhutang budi kepada teman si Ujang yang sudah bersusah payah memberitahunya. Tek Banun membersihkan batu nisan almarhum suaminya dengan kain selendangnya. Terbayang kembali peristiwa dua puluh empat tahun yang lalu. Setelah menikah, ia dan suaminya diusir dari Nagari masing-masing karena kawin sesuku tetapi tidak se-penghulu [2].

Ia tak habis pikir. Mengapa ketentuan adat itu masih berlaku, sementara Belanda sudah tiga setengah abad lebih pergi dari Ranah Minang?

“Hidup Tek,” kata teman si Ujang.

Tek Banun sadar dari lamunannya. Ia segera duduk di sadel belakang nya.Teman si Ujang pun melarikan Ojeknya secepatnya. Sepuluh menit kemudian, keduanya sampai di Puskesmas Lubuk Alung. Orang-orang tampak ramai berkerumun di halamannya.

Setelah turun dari Ojek, teman si Ujang segera mem bawa Tek Banun ke ruang gawat darurat.

Arsip Cerpen di Indonesia