Sejumput keberanian dibentangkan. Juga payung-payung, untuk menepis kepul debu yang terus bergemuruh. Kalut terus menyelimut. Resah berdesak-desak dengan aroma keringat. Takut berdesah-desah bersama bau pesing dan sengat balsam. Bibir-bibir merapal doa, ayat kursi atau apa pun yang bisa terucap. Dengan lembut, Bapak menatapku di pangkuannya. Ia memelukku lekat-lekat. Debu memaluri seluruh wajahnya. Juga darah yang menetes dari ujung ubannya. Segores cahaya harap terbit di ujung tatap matanya yang meredup.
“Bapak, Lembu Suro keluar?”
“Ingat! Jangan takut. Ini tidak akan lama. Bapak telah mengalaminya beberapa kali. Letus Kelud adalah siklus. Zaman yang cerah akan menjelang. Percayalah!”
Aku hanya membisu. Seorang raja raksasa berkepala sapi terkunci rapat di ingatanku. Teriakannya yang beringas menjulurkan lidah api yang membakar langit. Penthung di tangannya merobohkan gunung batu, lalu melemparkannya ke udara. Kakinya mengentak-entak kawah hingga terbit banjir lahar. Sosok itu lahir dari rahim cerita Bapak.
***
Semburat senja masih terlukis di ufuk barat saat Bapak menggandeng tanganku menuju masjid. Ia bilang, fajar besok, ia akan mengajakku menaiki gunung dengan sepeda kumbangnya. Hanya lima kilometer, katanya. Lonjak kegirangan adalah jawabku. Mungkin, di atas gunung, ada mainan yang bisa dibawa ke rumah.
Pagi masih buta saat Bapak memboncengku menaiki jalan setapak. Kaki kecilku terikat manis di rangka sepeda. Agar tidak terjerat jeruji, kata Bapak. Kedua tangan mungilku bergayut erat di punggungnya yang gagah. Kakinya mengayuh pedal dengan lincah. Selincah dongeng yang meluncur deras dari ingatannya.
“Di puncak gunung ini, seorang raksasa bersemayam. Ia berkepala sapi. Berbadan manusia,” aku mengeratkan pelukan, bergidik membayangkan. “Tak perlu takut. Bapak di sini. Dia hanya keluar pada saat-saat tertentu. Sebagai isyarat perubahan di negeri ini.”
“Kau pasti bertanya mengapa ada raksasa di atas gunung? Dulu, ia adalah seorang pangeran yang bernama Lembu Suro. Pangeran yang mencintai seorang putri kerajaan. Putri bak bidadari turun dari surga. Ia tinggal di istana pinggir Sungai Brantas sana. Setiap jejaka di negeri ini hendak meminangnya. Perempuan itu tahu bahwa ia sedang diburu dan digandrungi. Dia pun mengajukan syarat bagi siapa pun yang hendak menjadi suaminya harus mampu membuat sumur sehari semalam di puncak Gunung Kelud ini. Hanya Lembu Suro yang menyanggupi.”
“Dia seperti sapi ya, Pak?” tanyaku.