Dengan lembut, kutatap anakku di pangkuan. Aku memeluknya lekat-lekat. Bayangan Bapak berkelebat. Sosoknya membentuk lapisan cahaya di bawah empat lonjor rel. Seberkas cahaya yang menangkis pasir, kerikil, batu, dan keresahan. Ingatanku terpatri saat dulu ia tergeletak karena batu seruncing tombak jatuh menggores kepalanya. Darah menderas di ujung ubannya. Bapak terjerembap mendekapku. Persis saat ia memangku tubuhku. Kegagahan Kelud abadi dalam cerita-cerita Bapak. Juga kematiannya. Ah, Bapak. (*)
Catatan:
[1] mbale: Ruang tamu
[2] artinya: Kediri suatu saat akan mendapatkan balasanku yang berlipat-lipat. Kediri akan jadi sungai, Blitar jadi daratan, Tulungagung jadi perairan.
[3] senduro: Bunga edelweiss Jawa. Banyak ditemukan sebelum puncak Kelud.
M. Rosyid H.W. Menulis cerita pendek, esai sastra, dan resensi buku. Kumpulan cerpennya “Rembulan di Bibir Teluk dan Cerita Lainnya” akan terbit tahun ini. Saat ini penulis tinggal di Kota Malang.