“Daerah ini, Nak, dan sekitarnya tidak akan bisa lepas dari geliat Kelud ini. Balas dendam Lembu Suro adalah sumber penghidupan warga Mataraman,” ujarnya sambil melempar kerikil ke tengah kawah. Ia memintaku meniru gerakannya. Seonggok kerikil menerabas kekang udara, lalu tercebur di atas kawah yang mendidih. Lembu Suro mungkin akan menangkapnya di dasar genang air ini.
Dalam runcing cerita Bapak, Kelud adalah pijar anugerah bagi penduduk sekitarnya. Kata Bapak, Kelud hanya meletus beberapa kali dalam puluhan tahun, tapi dampaknya abadi dalam ratusan tahun. Sawah-sawah subur dan menghijau membentang. Setiap debu yang membubung setelah ledakan adalah ritus penyuburan tanah. Sumber-sumber air juga mengucur deras dari kuku-kuku kaki Kelud. Membasahi ladang dan bermuara di pucuk Sungai Brantas. Pasir, kerikil, dan bebatuan tak habis dikeruk demi gedung dan bangunan di sepanjang penjuru negeri. Hela ledak Kelud adalah entak hidup penduduk Mataraman.
***
Desember 2007. Fajar masih basah. Kukayuh sepedaku kuat-kuat. Memecah kabut. Menyisir wajah cerita Bapak di sepanjang setapak menuju puncak gunung.
Jurang curam membentang. Selarik aliran air tertangkap ujung mataku. Jurang ini tempat luberan kawah panas bermigrasi. Sekali terjatuh, tulang belulang akan menguap. Terowongan gelap menghadang. Di ujung gulita, kan kau temukan panas kawah. Lubang ini juga jalan lahar. Begitu ucap Bapak.
Dulu, di antara padang bunga senduro [3], Bapak berbicara kepadaku dengan mimik yang menegang. Bahwa setelah letusan gunung Kelud, akan ada peristiwa besar di negeri ini. Ia mencontohkan letusan tahun 1811 terjadi sebulan sebelum Inggris datang menyerbu, ledakan tahun 1901 adalah ledakan gerakan politik pemuda, erupsi 1919 adalah tanda gerakan kebangsaan Indonesia, dan 1966 adalah masa pergantian Orde Lama jadi Orde Baru. Aku merekam ujung kalimat Bapak; setiap Kelud meledak, perubahan sosial politik akan terjadi.
***
Februari 2014. Senja berlabuh lebih dini. Angin hangat menyengat hingga tulang belulang. Beduk masjid berdentum-dentum.
Ratusan kali, Lembu Suro memekik dan menggoyang bumi. Penduduk berduyun-duyun datang ke mbale rumah ini. Kalut menyelimut. Langit bergemuruh. Gelegar meletup-letup. Disusul kerikil-kerikil yang menghunjam bumi. Gaduh. Pecahan genting dan bebatuan sekepal tangan meluncur laksana perang tombak dan anak panah. Hujan pasir tak terhindarkan. Butir-butir debu merayap di atas atap. Resah berdesak-desak. Takut berdesah-desah.