“Iya. Kepalanya saja yang seperti sapi. Badannya, tangannya, kakinya ya seperti punya kamu. Sama kayak punya Bapak juga. Nanti di ujung jalan ini, ada patungnya.”
“Jangan, Pak. Takut.”
“Tidak apa-apa. Itu hanya patung, Nak.”
Bapak terus mengayuh. Kelok-kelok dilintasinya dengan sigap. Petak-petak sawah menghampar tak berujung. Kata Bapak, deret-deret tumbuhan itu bernama nanas. Rasanya masam dengan manis sedikit. Tapi, aku belum pernah memakannya. Sesekali, dua tiga pesepeda melewati kami.
“Mereka ke mana, Pak?”
“Oh orang-orang itu? Mencari kayu di hutan.”
“Mereka tidak takut Lembu Suro?”
“Tidak. Sekarang, dia masih sembunyi di balik kawah.”
“Kapan dia keluar? Haris takut, Pak.”
“Menunggu waktu yang tepat. Saat gunung meletus. Yaitu saat langit bergemuruh. Gelegar meletup-letup. Disusul kerikil-kerikil yang menghunjam bumi.”
“Seperti balon dong? Meletus?”
“Iya, gunung yang meletus. Kalau Lembu Suro keluar, kamu harus bersembunyi di mbale rumah kita. Akan aman. Rumah itu disusun mbahmu sebagai tempat perlindungan untuk keluarga dan warga.”
Aku mengangguk mengiyakan. Pedal terus berputar. Gir sepeda berderit-derit ketika menanjaki gundukan. Napas Bapak terengah-engah, disertai sengal batuk yang begitu berat. Kutatap punggungnya yang telah basah oleh keringat. Terkadang, kring-kring bel sepeda berbunyi. Bapak menoleh ke belakang, menatap wajahku dengan senyum paripurna. Senyum yang terus terpahat di sanubariku kelak.
“Jadi, Lembu Suro menggali sumur di kawah itu. Sesuai permintaan sang putri. Tapi, sang putri tak sudi diperistri raksasa. Seluruh pengawal dan prajuritnya diperintah untuk menguburnya di dalam sumur. Lalu, sang putri lari. Kamu tahu? Lembu Suro sudah terpendam di dasar Kelud. Tidak bisa keluar. Raksasa itu marah luar biasa. Ia berteriak dan bersumpah serapah bahwa kelak gunung ini akan menjadi sumber petaka. Kediri mbesuk bakal dadi pethuk piwalesku sing makaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi kedung.” [2]