“Waduh, sayang sekali. Coba Abang ke Pak Kades, barangkali ada pekerjaan di sana. Jangan berpikir dahulu ingin makan di penjara. Kalau Abang sampai masuk penjara, sebagai RW saya juga bingung jika nanti ditanya malaikat!”
“Memangnya kapan malaikat mau menemui Pak RW?”
“Nanti kalau empat istri saya sudah siap bertemu di akhirat! Sekarang ke Pak Kades saja! SKTM-nya bawa ke sana!”
Bapak Kepala Desa yang ditemul Bang Kronis ternyata sedang berbincang dengan Pak Babinsa dan Kapolsek. Serius. Kalau saja Bang Kronis, juga pembaca cerita ini, membawa mikroskop, atau kacamata tembus dimensi, akan terlihat kepala-kepala botak mereka mengepulkan asap sebagaimana gunung api kalau kasmaran.
“Addduuuhhh… kalau saja semua orang berpikiran sama dengan Anda, nanti penjara penuh!” ujar Pak Kapolsek.
“Kalau penuh, kan masyarakat aman, Pak!”
“Belum tentu. Penjahat lihai masih banyak berkeliaran! Lagi pula, mereka ini justru sebisa mungkin tak dapat ditangkap. Mereka malah takut dipenjara!” timpal Pak Babinsa.
“Kalau untuk makan saja, mah, di sini oge ada atuh, Bang Kronis. Kebetulan saya sedang mencari penjaga Perpustakaan Desa!”
“Wah, keren, Pak Kades. Memangnya Perpustakaan Desa itu ada dan didanai?”
“Ya, ada. Khususnya dalam wacana. Rencananya tahun depan didanai dari Anggaran Dana Desa!”
“Makannya juga tahun depan, atuh?”
“Iya. Tapi kalau mau, untuk sekarang juga ada. Sisa kami bertiga ngaliwet tadi!”
Bang Kronis tidak termenung. Tidak terenyak. Tidak kaget. Tidak marah. Tidak heran. Tidak mau merepotkan. Tidak mau dijebak fatamorgana. Tidak mau menyerah. Tidak mau mengubah rencananya.
Sesuai dengan saran Pak Kapolsek, maka langkah lelaki 50 tahunan berambut gondrong yang selalu bekerja serabutan itu pun diarahkan ke kota. Sebuah tempat paling ribut, huh, sekaligus renyah di muka bumi di pantat langit itu.
Kawasan Lembaga Pemasyarakatan yang direkomendasikan Pak Kapolsek itu terletak di sebuah lahan luas di perbatasan antara masjid dan Kantor Bupati, serta taman kota yang sangat indah dan banyak dikunjungi turis dari berbagai belahan dunia. Seusai sembahyang di Masjid Raya, di bawah bentangan karpet hijau seluas lapangan bola yang sama dengan padang rumput di perbatasan hutan lindung Bang Kronis meneletangkan tubuhnya yang dibalut baju batik baru pemberian tetangga jauhnya, berpikir ulang tentang niatnya. Namun awan putih yang dilihatnya kemudian menghitam. Namun awan biru yang diterawangnya menjadi gelap. Ia pun cepat beranjak, bergegas menemui sipir yang namanya sudah ada dalam saku dan kepalanya.