Pak PJS Kepala Penjara mengangguk keras. Lalu menggeleng. Beberapa staf mulai berdatangan. Mereka mulai terusik dengan percakapan yang agak gaduh dan membuat kepala mereka serasa penuh semut
“Begini, Bang Kronis. Menurut hemat saya, sebaiknya tak usah ingin masuk ke penjara. Tebusannya sangat berat. Banyak orang ingin masuk ke penjara itu harus sekolah tinggi-tinggi dahulu. Lalu juga harus keluar uang banyak untuk kampanye menjadi gubemur, bupati, atau anggota DPR dan DPRD. Harus punya rekanan dan jaringan yang dijalin begitu lama, agar saat melakukan korupsi dan negosiasi itu kuat. Mereka membutuhkan waktu yang lama, uang yang banyak, dan tenaga yang luar biasa untuk dapat dipenjara!”
“Jadi, saya harus jadi gubemur, direktur operasional perusahaan swasta, bupati, atau anggota DPR kalau mau masuk penjara?”
“Tidak mesti begitu. Banyak gubernur, bupati, anggota DPR dan DPRD, juga direktur perusahaan swasta yang jujur. Kan mereka tidak dipenjara, bukan?”
“Betul. Orang jujur, kan, tidak melanggar hukum!” Bang Kronis tersenyum kecil. Lalu memandang berkeliling pada para staf dan orang-orang yang mengerubunginya di ruang tamu Kepala Penjara. Bang Kronis lalu bersalaman dan meminta izin pulang. Ia sangat kecewa karena ditolak masuk ke panjara. Di tolak serumah atau sekamar dengan para gubernur, bupati, anggota DPRD dan DPR yang terhormat itu, meski kemudian melanggar hukum yang membuatnya kecewa itu.
Maka, kini pilihannya ialah mencoba melanggar hukum. Itu memang risiko akibat jalan buntu. Maka Bang Kronis menyusuri jalanan menuju pasar. Ia bertekad untuk mencuri agar bisa masuk penjara meski pun itu bukan cita-cita yang ia idamkan. Pelanggaran besar dari niatnya semula. Agar dosanya tidak terlalu besar, ia duduk di bangku penjual gorengan. Ia mengambil beberapa gorengan, memakannya, lahap, kemudian diam-diam pergi.
Namun, belum begitu jauh, pedagangan gorengan itu mengejarnya.
“Pak, kenapa pergi? Ini kembaliannya!” pedagang gorengan itu memberikan sejumlah uang, yang membuat Bang Kronis terbelalak. Dan itu tidak hanya terjadi ketika ia menguji pedagang lain. Tukang Martabak Bangka, Kerak Telor Betawi, Soto Lamongan. Sate Madura, Kupat Tahu Tasikmalaya, Gudeg Yogya, Tahu Sumedang, Kecap Majalengka, Bebek Betutu Bali, Bubur Manado, Kapal Selam Palembang, Rujak Bebek Cirebon, Mie Aceh, Mangga Indramayu, hingga ribuan pedagang lainnya, berbuat sama. Bang Kronis, yang berniat tidak membayar, ketika diam-diam pergi, malah kemudian diberi uang kembalian. Itu tidak hanya berlaku di emperan, tapi juga ketika ia berkunjung ke mal-mal hingga superblok. Dan tidak hanya makanan, tapi semua barang.