Wah, ternyata juga semua bidang jasa.
“Bang kembaliannya belum ada. Dibikin untuk plontos saja, ya?” saran tukang cukur.
Bang Kronis pasrah, menggangguk.
“Bang kembaliannya kan masih banyak Dipakai untuk menginap saja sama saya, ya?” tutur lembut pemijat non tradisional.
Bang kronis lebih pasrah lagi.
“Aneh. Mengapa Tuhan, melalui otak seorang cerpenis, menempatkan saya menjadi tokoh dalam sebuah cerita yang seperti ini?” ujarnya dengan roman muka segelap malam Jumat Kliwon.
Seratus tahun kemudian, seperti dituturkan cucu-cicitnya, termasuk juga cucu-cicitnya sang cerpenis, cita-cita Bang Kronis untuk masuk penjara akhirnya tidak pernah tercapai. ***
Babakan Nagrak, Bandung
Eriyandi Budiman lahir di Tasikmalaya, 2-3-1966. Bebebarapa bukunya yang sudah terbit ialah Sederet Tangis dari Tigris (cerpen), Prasasti Kesedihan Izrail (cerpen), Sayap Sorga (puisi), dan Amora Magma (cerbung). Tinggal di Desa Cangkuang Kab. Bandung.