Si gadis muda menghabiskan waktu spesialnya sore itu bersamaku, jalan bersama menikmati pujian orang-orang yang sempat memperhatikan kami. Tak jarang pula kami hanya mendapat tolehan datar tanpa ekspresi. Gadis muda ini amat memanjakanku, itu yang kurasa. Dimulai dari merawatku dengan baik, lalu memberiku sentuhan wangi mawar. Dan kali ini, ia tak memberiku pilihan dengan dibawanya pulang sebuah atasan hasil dari jalan sore kami di alun-alun. Ya, aku Koral, sebuah kain untuk bawahan manusia, berpotongan sederhana, sepanjang betis dan berbahan beludru halus, akan memiliki pasangan baru. Sebuah baju berwarna hijau tua, klasik dan sangat lucu. Ia diberi nama Emerald.
Mulai sore itu, kami menjadi sepasang pakaian yang istimewa. Kami hanya dikenakan ketika gadis mudaku ingin menghadiri acara spesial baginya. Aku pun senang memiliki Emerald sebagai teman berbagiku. Kami memang tak selalu bersama, kadang di pagi hari ia berpasangan dengan si hitam dan aku berpasangan dengan si pink, tetapi ketika kami dipasangkan bersama maka sebuah keajaiban terjadi. Aura gadis mudaku jauh lebih berseri.
Menurut mi tos , warna bi s a memengaruhi karakter. Tetapi aku lebih memilih untuk mengatakan warna akan memengaruhi hidupmu. Aku si Koral, warna hangat yang selalu menanti Emerald yang dingin dan teduh. Perpaduan warna yang kontras untuk gadis mudaku. Kuharap penyatuan kami akan selalu menjadi bagian favoritnya.
Sudah beberapa acara kami lalui bersama. Gadis muda, aku dan Emerald, seperti cerita klasik. Dan sore itu, entah kenapa Emerald meluapkan kegelisahannya, membayangkan apa jadinya dia jika gadis mudaku tidak menjatuhkan pilihan padanya. Mungkin saja ia masih di rumah lamanya, bersaing dengan sejenisnya dan saling tak bertegur sapa layaknya musuh, berlomba mencari perhatian lebih untuk rumah baru kelak, dan yang pasti dia takkan pernah bertemu denganku.
«Ternyata takdir itu memang ada ya, Ral?» Emerald terlihat manis sore itu dengan bros kupu-kupu menempel padanya.
«Hahaha…yang kutahu, takdir itu datang di waktu yang tepat.”
«Andai sore itu gadis muda tak membawaku pulang, mungkin hariku tak semenarik ini. Bisa saja aku masih di rumah lama dan bersaing dengan yang lain, aku tak suka!» ia berujar lagi
“Kenapa harus tak suka? Bukankah kamu percaya takdir? Di mana pun kita berada akan ada satu waktu yang membawamu ke hal yang paling kamu inginkan.”