Ketika Koral Bertemu Emerald

“Iya, tetapi seandainya bukan denganmu dan gadis muda kita, pasti ceritanya akan berbeda. Bisa jadi aku hanya akan menjadi pasangan dari si celana panjang kaku dan dipakai setiap hari tanpa dirawat dan memperdulikan kondisiku!”

Kutahu Emerald masih galau, ada rona kegelisahan di sana.

“Sudahlah, Em. Sebenarnya kita ini adalah hal yang memang sudah ditakdirkan. Atasan dan bawahan adalah dua benda yang ditakdirkan bersama. Hanya saja fungsinya yang beda. Kamu mungkin bebas memilih akan dipasangkan dengan siapa, bawahan bisa saja tanpa atasan, tetapi ketika atasan tanpa bawahan, sepertinya agak menggelikan!”

“Hahaha, iya, ya! Bayangkan jika aku tanpa kamu, pasti gadis muda tidak akan keluar rumah.”

«Kamu terlalu melebihkan. Semua jenis kita fungsinya sama, sebagai penyempurna, pemanis, dan yang utama adalah penutup. Hanya corak, warna, dan bahan saja yang membedakan. Kita adalah cerminan si pemakai. Apa yang mereka pakai, cocok tidaknya, panjang pendeknya, itulah yang mereka sukai. Kita bisa saja hanyalah korban dari keegoisan tren, atau sikap sombong dan gengsi manusia. Sudahlah, jangan pikirkan itu.»

Aku sadar ini adalah percakapan terbaik yang pernah aku lakukan. Si gadis muda perlahan bangkit dari duduk dan membawa kami meninggalkan keramaian. Berbagai macam bau, asap rokok, dan parfum sepertinya memenuhi ruangan. Harum mawarku pasti akan pudar, gumamku menggerutu.

«Tapi, Ral. Seandainya suatu hari kamu akan pudar, dan aku sudah koyak, akankah kita bisa bertemu lagi?» Ujarnya. Ada kecemasan pada Emerald.

«Kamu ini, jangan terlalu mencemaskan hal-hal yang belum terjadi. Cemasmu berlebihan, dan semua yang berlebihan itu tidak baik.»

«Tapi… setidaknya aku mempunyai keinginan, memiliki teman sampai kelak aku tak dibutuhkan lagi. Aku tak ingin seperti barang mahal yang cuma diimpikan, dipakai sesaat lalu aku akan tercampakkan.»

«Tenanglah, kita akan selalu bersama. Sampai lapuk! Mari menua bersama!»

Emerald mulai semangat, mungkin tadi ia benar-benar terpuruk. Sepertinya, semangat inilah yang dibutuhkan Emerald. Aku hanya membumbui ceritanya, bagaimana bisa aku menjanjikan langit sedang khayalan di bumi pun tidak bisa kugambarkan. Berdongeng dengan segala kemanisan masa tua adalah obat buat kami berdua, karena kami tahu sekuat apa helai benang. Ada masa ketika kami akan tak digunakan lagi, entah itu sudah tak layak atau memang tergeser popularitas. Semoga saja tidak ya, Em!

***

Arsip Cerpen di Indonesia