“Ya, kalau angkotnya sepi sama saja Bapak seperti tidak bekerja Pak. Hanya membuang tenaga saja. Bapak sudah tua, harusnya menghabiskan hari dengan cucu. Anak-anak Bapak ke mana?” Tiba-tiba aku merasa marah, entah marah pada siapa.
“Saya tidak bisa punya anak, Mbak,” jawabnya. Mendengar itu, aku menjadi salah tingkah. Terngiang kata-kataku soal menghabiskan hari dengan cucu, selanjutnya aku memilih diam. Tak mau melanjutkan pembicaraan tersebut. Rasanya aku telah menjadi anak muda sok tahu, yang merasa paling benar.
“Saya tidak tersinggung, Mbak. Ya, beginilah hidup. Mungkin sudah takdir saya. Toh, hidup ini sejatinya mencari keridhaan Allah. Saya akan terus menjadi tukang angkot. Ini jalan saya mencari ridaNya, Mbak,” ada sedikit senyum di wajah keriputnya.
“Maksud angkot ini sebagai jalan mencari rida?” Aku mulai merendahkan nada suara.
“Ah, itu urusan saya dengan Allah, Mbak. Cukup saya dan Dia yang tahu.”
Curang! Jawaban barusan sama sekali tak memuaskanku. Sungguh aku ingin mendesak agar bapak tersebut menjelaskan keridaan Allah yang dia maksud barusan. Namun demi mengingat sikap lancangku sebelumya, aku memilih diam.
***
Pagi itu aku berangkat sekolah lebih awal. Sengaja, aku ingin mengadakan pertemuan eksklusif dengan seorang teman. Ia cerdas, bijak, panutan dan tentunya idaman banyak gadis di sekolah ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ia sudah berada di kelas enam puluh menit sebelum pelajaran dimulai. Empat puluh menit ia gunakan untuk mengecek ruang kelas, kamar mandi, perpustakaan dan ruangan-ruangan lain dari sekolah ini. Ia mendapat pekerjaan khusus itu langsung dari bapak wakil kepala sekolah. “kamu jadi duta sekolah ini ya,” begitu ujar pak wakil kepada Rauf, setengah tahun yang lalu. Setelah selesai melaksanakan tugas, ia biasa menggunakan sisa waktu dua puluh menitnya untuk membuka beberapa buku. Rauf tak pernah keberatan mengemban tugas tersebut.
Aku melirik jam tangan perak di pergelangan. Sepuluh menit lagi ia selesai memeriksa ruangan. Begitu perkiraanku, sepuluh menit ini akan aku manfaatkan untuk perjalanan menuju sekolah. Sepagi ini, jalanan sudah mulai ramai. Berbagai jenis kendaraan melaju memenuhi rute jalan. Angkot! Aku melihat kendaraan itu berlalu tepat di depan batang hidungku. Melihat itu, kakiku seperti dirangsang untuk berlari lebih cepat menuju sekolah. Tak sabar mendiskusikan soal pak tua dan angkotnya kemarin kepada Rauf, teman terbaik yang pernah aku kenal.
***