Angkot Tua

“Tenang, aku belum selesai. Pak Ali memang sudah tua, angkotnya itu sepi. Sepi sekali. Ia sudah tak mampu lagi menarik banyak penumpang untuk masuk ke angkotnya, disebabkan karena jumlah  saingan dari pengemudi-pengemudi angkot yang masih muda lainnya. Namun uniknya, pak Ali sepenuhnya menyerahkan angkotnya kepada Allah. Ia jadikan angkot itu sebagai jalan agar Allah rida padanya. Jadi begini Hus, dari hasil setengah hari berkeliling dengan beliau, aku menemukan penumpang gratis yang masuk ke angkotnya sejumlah dua puluh orang. Mulai dari ibu-ibu pengepul sampah yang ada di rekaman tadi, pengamen jalanan, penjual koran lampu merah yang tak laku-laku dan masih banyak lagi. Mereka tak pernah menyetop angkot karena sadar tak punya uang untuk bayar angkot. Uangnya lebih baik untuk beli makan daripada bayar angkot. Hanya aku, satu-satunya penumpang hari itu yang menyetop angkot dan membayar,” Rauf memberhentikan ucapannya. Ditariknya napas panjang, aku tahu ini belum selesai.

“Melalui angkot tua dengan roda empat itu, ia berjalan menuju surga Allah. Ia bilang, sudah tak mampu lagi menafkahi kebutuhan sehari-hari istrinya. Ia berniaga kepada Allah dengan angkotnya yang “sepi penumpang” itu agar mendapat rezeki lebih untuk mempersembahkan sebungkus nasi kepada istrinya, dan kau tahu ajaibnya? Ia bilang selalu kelimpahan makanan. Entah datang dari mana, makanan selalu ada di tudung sajinya. Ia tak pernah tahu asal makanan itu dari mana. Hanya istrinya dan tentu Allah yang tahu,” tambah Rauf lagi. Ah, aku menyesal tak ikut nimbrung kemarin.

“Oh iya Rauf. Pak Ali, tidak pernah bertanya pada istrinya soal asal kelimpahan makanan itu?”

“Istrinya seorang tuna wicara, Hus,” Jawab Rauf singkat. “Aku malah berpikir, makanan itu datang dari orang-orang yang ditumpangi Pak Ali setiap harinya,” tambahnya lagi.

“Sama,” jawabku spontan.

Sekarang aku paham soal kata-kata yang mengganjal tersebut. Aku sangat paham sekali. Rasanya aku ingin berlari menuju pangkalan angkot, mencari angkot Pak Ali dan menyalaminya sambil memohon maaf sebanyak-banyaknya. Sungguh aku salah, masa depan tukang angkot tua itulah yang cerah, entah bagaimana kelak aku di masa depan dengan keegoisan yang seperti ini. Seketika, kulekatkan pandanganku ke arah Rauf. Aku seperti melihat sosok Pak Ali muda di depanku. Laki-laki yang bijak, dengan masa depan cerah menurutku.

“Hei, kamu kenapa diam saja?”

“Ayo setelah pulang sekolah kita berangkat ke pangkalan angkot. Bertemu beliau,” tiba-tiba aku gugup sekali.

Kulihat Rauf tersenyum kecil. Mungkin ia menertawai kelabilanku. “Siap Husni.” ***

 

Hilwa Fitri, menetap di Takengon, Aceh tengah. Tengah menempuh pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Arsip Cerpen di Indonesia