Angkot Tua

Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku terngiang-ngiang soal apa yang akan Rauf lakukan di pangkalan tersebut. Apakah ia akan bertanya langsung soal perkataan sang supir angkot tua itu, atau bagaimana? Ah ya, lagi pula ia tak tahu angkot mana yang kumaksud.

***

“Husni, aku sudah dapat jawabannya,” seru seseorang dari belakangku. Suaranya tak asing sama sekali, Rauf. Aku tak menggubris. Kupercepat langkah kakiku menuju kelas. “Sudah, tak usah malu begitu, Hus,” ujarnya sambil mengimbangi langkahku. “Malu  kenapa sih? Aku biasa saja. Kamu beneran gak penasaran dengan jawabannya?” Suara Rauf santai dan ringan sekali. Sungguh ia berhasil meluluhkan batu keras di hatiku. “Ok kita bicarakan di kelas,” jawabku dengan senyum kecil.

“Jadi bagaimana? Kamu penasaran? Ini urusan laki-laki sekaligus urusan hati.”

Haa maksudmu?”

Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan sebuah rekaman video ke hadapanku. Dengan rasa penasaran yang melunjak, aku menatap rekaman itu lekat-lekat. Kulihat seseorang dengan tubuh ringkih dan rambut putih menyetir angkot tua sambil memamerkan gigi-gigi ompongnya. Aku tahu, itu Si Pak Tua. Rauf duduk di sebelahnya sambil mengambil rekaman yang sepertinya diambil secara sembunyi-sembunyi.

Bapak itu menghentikan angkotnya di pinggir jalan. Ia lama berdiskusi dengan beberapa orang yang tak tampak di rekaman tersebut. Sekejap kemudian, kamera diarahkan ke bagian belakang angkot. Dua ibu-bu muda dengan baju daster lusuh masuk ke dalamnya. Ditambah dengan dua karung besar yang aku tak tahu itu apa. Angkot kembali berjalan perlahan. Kira-kira sekitar 15 menit, angkot itu kembali berhenti di tempat dengan banyak karung-karung yang mirip dengan dua karung di dalam angkot. Keduanya lalu turun perlahan, menaikkan karung ke atas kepala mereka dan melambaikan tangan ke bapak tua,  si pengemudi.

Setelah itu, rekaman yang menurutku agak panjang tersebut selesai. Aku sama sekali tak paham maksud rekaman itu dan kaitannya dengan perkataan angkot ini sebagai jalan mencari rida. Rauf menatapku lekat-lekat. Dengan wajah tenang, ia memulai pembicaraan. “Kamu tahu Husni, Allah itu tidak akan pernah membiarkan hamba-hambaNya terlantar selagi mereka masih mau berusaha. Setelah diskusi panjangku dengan Pak Ali, aku jadi paham tanggung jawab seorang laki-laki. Terima kasih ya Husni.”

“Maksudmu?”

Arsip Cerpen di Indonesia