Angkot Tua

“Menurutku kata-katanya terlalu klise. Keridaan Allah melalui angkot, apa maksudnya coba? Anak bau kencur sepertiku belum bisa mencernanya,” seru Rauf sambil mengernyitkan dahi. “Tidak mau bertanya dengan orang tuamu dulu?” tanyanya sambil meletakkan pena. Ternyata ia menggambarkan skema ceritaku di buku catatannya.

Aku menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Rauf. “Tidak perlu. Orang tuaku mungkin akan menjelaskan. Tapi aku tak akan paham, komunikasi mereka dengan anak-anaknya tidak berjalan begitu baik. Aku butuh tempat diskusi yang hangat.”

“Baiklah. Kamu masih mengingat pangkalan angkot bapak itu kan, Husni? Jika iya, Pulang sekolah kita berangkat ke sana.” Aku mengangguk.

Dari kisah dan kebingungan yang aku utarakan, hanya kata-kata itu yang dikeluarkan Rauf. Ia tidak memberi penjelasan, nasihat atau apa pun yang berhubungan dengan kebijakan dan solusi untuk mengatasi kebingunganku. Atau mungkin, Rauf terganggu karena kedatanganku pagi ini?  Ah sepertinya tidak. Selama mengenalnya sejak dua tahun lalu, Rauf tak pernah mengecewakanku. Semoga kebingunganku terjawab siang ini.

***

Siang sepulang sekolah, Rauf mendatangiku. Entah mengapa tiba-tiba aku jadi tidak bersemangat lagi untuk memikirkan hal tersebut. Lagi pula, apa pentingnya memikirkan perkataan tukang angkot yang sudah renta dan tak punya masa depan cerah lagi. Rasanya lebih baik aku yang masih muda dan kuat ini belajar lebih giat demi kebaikanku di masa mendatang.

“Sepertinya sudah tidak tertarik lagi soal perkataan klise itu?” Rauf mengejutkanku. Aku gugup, entah bagaimana ia bisa tahu apa yang di benakku saat ini. “Ah sudahlah Rauf. Gak penting. Peer kita juga banyak bukan? Sudah sudah kita pulang ke rumah masing-masing saja. Permisi,” aku segera membalikkan badan tanpa peduli bagaimana reaksi Rauf saat itu.

“Eh tunggu. Kalau memang begitu, kamu beri tahu saja pangkalan angkot dia. Biar aku saja yang ke sana.” Langkahku terhenti mendengar kalimat itu. Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil kertas dan pena, kugambar denah menuju pangkalan tersebut tanpa berbalik ke arah Rauf. Sejujurnya aku sangat malu. Malu karena tidak mampu menjaga konsistensi perkataanku. Segera setelah selesai, denah acakadul tersebut kuberikan padanya. Ia tersenyum. Senyuman seorang sahabat yang sangat tulus.

Arsip Cerpen di Indonesia