Keluargaku menjalani profesi sebagai petani atau pekebun. Ayahku setiap tiga atau empat tahun membuka ladang untuk menanam jagung. Pada zaman dahulu, makanan pokok nenek moyang kami beras jagung yang digiling dengan alat berupa batu gilingan. Masih ada batu gilingan itu di kamar nenek. Nenek dan kakekku sudah tiada. Aku terlahir tanpa melihat nenek dan kakek. Kakakku masih sempat merasakan kasih sayang kakek dan nenek.
Aku juga suka makan beras jagung, tetapi aku lebih suka jagung rebus. Aku juga suka makan biji jagung yang berupa butiran. Itu namanya bassang.
Aku masih Kelas VI Sekolah Dasar, sedangkan Kakakku sudah Kelas I SMA. Hanya kakakku saudariku. Orang-orang tua di sini rata-rata hanya memiliki anak dua. Dua anak cukup itu bunyi tulisan besar yang selalu kulihat di dekat sekolah.
Setelah sarapan, aku meninggalkan sekolah dengan rasa jengkel. Meskipun jengkel aku tetap pamit sama ibu. Mencium tangan ibu. Dan tentu saja cuek dengan kakakku si tukang suruh-suruh itu. Kakak yang menyebutku sering bodoh, pemalas, tak berguna.
“Kamu berantem dengan kakakmu?” tanya Dea, teman sebangkuku.
“Aku jatuh gara-gara dia!” kataku sebal.
Alasanku tentu saja tidak tepat. Tetapi alasan itu cukup baik untuk mengobati hatiku yang terluka.
“Kamu mau tahu cara membalas perlakuan kakakmu yang sok berkuasa itu?” tanya Dea menyorotkan matanya, serius.
“Bagaimana caranya?”
Dea menyebutkan cara membalas semua kekuasaan kakakku. Kakakku memang penguasa di rumahku. Dialah yang selalu memerintahkan aku mengerjakan ini-itu, sana-sini.
Aku mendengarkan setiap katakata Dea dengan semangat menyala. Aku harus membuat kakakku kapok.
Ada dua cara yang diceritakan oleh Dea. Kebetulan malam ini kakak menyuruhku membuat kopi kesukaannya yang tanpa gula itu. Namanya kopi luwak. Ibuku selalu memasukkan gula saat membuatkan ayah kopi luwak, tetapi kakak tidak. Alasan kakakku kopi itu sudah menyatu dengan gula sejak dibuat di pabrik.
“Bilang sama kakakmu jangan sering minum kopi!” ujar ibu ketika kuberitahu bahwa kakak menyuruhku membuat kopi.
“Ya, Bu!” jawabku, tersenyum. “Malam ini kakak mau belajar karena mau diskusi besok.”