“Kalau dia tidak bisa tidur, besok dia akan mengantuk di sekolah!” timpal ibu. Kasih banyak airnya supaya tidak berfungsi anti ngantuknya.”
“Ya, Bu!” jawabku cepat.
Wah, ibu tahu kelemahan kopi. Membuat kita tidak bisa tidur. Atau itu kelebihannya, manfaatnya!?
Malam ini kakak akan begadang sampai subuh karena aku sedang menjalankan resep anti tidur dari Dea. Aku tidak melakukan perintah ibu. Malah aku sengaja mengurangi airnya sebagaimana saran Dea.
Menurut Dea resep ajaib itu belum tentu bertuah. Setiap orang memiliki sistem kekebalan yang berbeda. Selain efek yang membuat peminum kopi resep Dea tidak bisa tidur satu hari satu malam, juga efek lain yang lebih parah, yakni mencretmencret. Bayangkan kalau kakakku mencret di sekolah. Hahaa…
Dea selalu menjelaskan seperti ahlinya.
“Ini kopinya, Kak!” kataku tersenyum kepada kakakku yang tidak menoleh membalas senyumanku.
“Simpan di situ!” katanya menunjuk ke mejanya, tanpa menoleh. Ia hanya melototi bukunya.
***
Pada pagi harinya kami berangkat ke sekolah bersamaan diantar sepupu naik motor Jupiter. Aku diturunkan di sekolahku yang jaraknya dua kilometer dari dusun kami. Kakakku terus ke kota kecamatan. Ia dan sepupuku sekolah di sana.
Mata kakakku terlihat merah. Itu pertanda aku sukses besar.
“Berhasil!” batinku tersenyum girang.
Aku tidak fokus di sekolah. Hatiku sedang merayakan kemenangan. Dea, teman sebangkuku ikut merayakannya.
“Kenapa kalian tertawa?” tanya Ibu Sinar yang mengajar kami saat itu.
Aku dan Dea diam. Ibu Sinar tidak bertanya lagi. Ibu Sinar adalah guru Mulok Kelautan.
“Bagaimana rasanya garam itu, Dea?” tanya Ibu Sinar kepada Dea saat aku tersenyum kepada Dea.
“Asin, Bu!” jawab Dea.
“Apa manfaat garam, Tia?” tanya Ibu Sinar lagi.
Ibu Sinar sedang membuat kami fokus.