“Manfaatnya… sebiji garam dicampur kopi luwak membuat peminumnya sanggup belajar sehari semalam,” jawabku.
Ibu Sinar terlihat heran. Teman-teman sekelas kami menengok ke arah kami. Dea menyikutku. Aku yakin itu manfaat garam yang paling keren.
“Itu berbahaya!” ujar Ibu Sinar. “Darimana kamu mendapat pengetahuan seperti itu?”
Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Ya, dari Dea. Apakah aku harus mengatakan dari Dea? Kalau itu berbahaya, mengapa berbahaya?
“Dari buku, Bu!” Dea yang menjawab.
“Apa Tia namamu?” tanya Ibu Sinar menancapkan matanya ke Dea. Dea otomatis menunduk. “Jangan menjawab kalau tidak ditanya!”
Dea bungkam. Menunduk ke mejanya.
“Itu sangat berbahaya. Orang yang meminum kopi bercampur sebutir garam apalagi jika dicampur sebutir merica bisa membuat mabuk!” jelas Ibu Sinar.
Aku terdiam. Terpana dalam kekhawatiran.
“Ibu Sinar menyebut resep baru!” bisik Dea.
Aku menengok ke Dea. Agaknya ia tidak memerhatikan akibat yang akan menimpa kakakku. Dea lebih tertarik pada kata-kata Ibu Sinar. Dea cepat memahami sesuatu yang tersembunyi.
“Bagaimana kalau sebutir garam tanpa merica, Bu?” tanyaku was-was. Entahlah, ada rasa khawatir yang menusuk terhadap nasib kakakku padahal aku tidak menyukainya.
“Akibatnya bisa parah, sakit perut sampai pingsan!”
Bel pulang berbunyi. Aku melangkah pulang dalam selimut tandatanya yang berlipat-lipat. Apa yang akan terjadi pada kakakku?
Saat tiba di rumah, aku melihat motor sepupuku sudah terparkir di depan rumah. Itu artinya kakakku juga sudah datang.
“Kakak sudah pulang, Bu?”
“Sudah!” jawab Ibu sambil menyediakan makanan. “Dia tidur karena mengantuk. Gurunya marahmarah menyuruhnya pulang karena tertidur di kelas. Belajarnya terlalu lama tadi malam. Gara-gara kopi itu. Sudah kularang minum kopi!”
“Hehee…!”
“Kenapa kamu tertawa, Tiani?” tanya ibuku melihat ke wajahku.
“Karena kakak yang selalu membuatku kesal telah merasakan balasannya!”