Sebatang Mawar

“Namanya saja bayi,” katanya sambil memperhatikan anak lelakinya dan teringat bagaimana lembutnya tubuh bocah itu sembilan tahun lalu. Kuping. Hidung. Mulut. Tangan. Kaki. Semuanya. Dan ia menciuminya satu-satu. Pinggir kuping. Ujung hidung. Jari-jari tangan dan kaki. Ia menghirup dalam-dalam tiap kali mencium. Seolah tengah mengendus wangi jamur di sebatang kayu lembap atau perpaduan jahe dan tepung beras pada ragi tapai.

“Bayi itu lembut?” tanya anak lelakinya.

“Benar,” katanya.

“Tapi bayi tidak punya duri kan.” Ia mengangguk dan menyentuh pipi anak lelakinya.

“Kenapa mawar ini punya duri?”

Ia berpikir sesaat, “Karena ia sendirian di dalam pot.”

Setelah pembicaraan itu, anak lelakinya sempat takut ke kamar mandi atau tidur sendirian. Ia bilang, tidak ingin punya duri seperti mawar. Anak lelaki itu belum sepenuhnya mengerti kalau ia bukanlah tumbuhan semacam mawar dan karena itu tak akan mungkin punya duri. Lagipula, apa salahnya punya duri? Itu cara mawar melindungi bunga-bunganya. Biar orang tak berbuat sesuka hati dan memetiknya. Sama seperti seorang ibu yang tak akan membiarkan siapa pun mengambil sesuatu yang ada dalam hatinya. Apa yang ada dalam hati seorang ibu? tanya anak lelakinya. Kamu, katanya sambil menjawil hidung anak lelakinya, lalu memeluk kuat-kuat. Tak lama setelah itu, anak lelakinya sudah kembali banyak bermain, melupakan soal duri mawar, dan sama sekali tidak takut lagi sendirian.

***

Anak keduanya lahir. Perempuan. Sebuah kejutan yang tidak terbayangkan. Bagaimana bisa tubuhnya—yang ia pikir telah begitu kering—melahirkan bayi lagi? Praktis ia menjadi sibuk mengurus bayi perempuan itu dan memilih berhenti kerja untuk sementara. Ia melupakan tanaman mawar di dalam pot. Bahkan sebenarnya sejak awal kehamilannya ia sudah tak datang ke sudut halaman. Ia mabuk berat. Muntah-muntah setiap pagi dan sore. Tidak bisa berdiri lama. Sampai melahirkan ia terus dalam kondisi sakit. Suaminya, sama dengan dirinya, bukan pencinta tanaman. Lagi pula lelaki itu sudah terlalu repot dengan urusan pekerjaannya, ditambah, kalau ia sedang di rumah, mengurus segala sesuatunya. Menyiapkan perlengkapan anak ke sekolah. Mengantar ke dokter. Membuat makanan. Membersihkan dapur. Sama sekali tak ada waktu tersisa untuk merawat mawar.

Arsip Cerpen di Indonesia