Sebatang Mawar

Sampai, ia kembali melihat mawar itu, tatkala anak lelakinya berdiri di depan pintu dan mengangkat pot mawar hingga setinggi dada dan berkata, “Mama, mawarnya berbunga, lihat sini, lihatlah.”

Mawar itu tampak kerdil. Tidak terurus. Mungkin sudah beberapa kali berbunga tanpa sepengetahuan mereka dan kelopak-kelopak bunga itu berjatuhan dan mengering. Anak lelakinya benar, ada satu bunga di cabang kecilnya, belum sepenuhnya kembang, tapi bila didekatkan ke hidung, wanginya tercium sangat manis.

“Kita harus menjaga bunganya biar tidak layu,” kata anak lelakinya.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Setelah kembang sempurna, kelopak bunganya pasti berjatuhan satu demi satu, setiap hari, sampai habis,” katanya, “tapi, mawar tidak akan pernah berhenti berbunga. Nanti bakal ada lagi.”

Anak lelakinya masih tampak khawatir, tapi tak membantah, meletakkan kembali mawar itu di sudut halaman, jongkok beberapa lama di sana, tampak terkagum-kagum pada bunga mawar yang sudah kelihatan merahnya dan  perlahan-lahan kelopak merah itu nanti akan sepenuhnya mengembang dan semut dan kumbang berdatangan, terjerat baunya. “Kau tidak akan beranjak dari sana?” tanyanya pada anak lelakinya dan anak perempuannya menangis dalam gendongan dan ia menepuk-nepuk lembut punggung bayinya, mencoba menenangkan dengan cara menyanyikan sebuah lagu bernada gembira, sementara anak lelakinya belum juga meninggalkan mawar yang tanpa disadarinya memang terlalu kurus untuk sebatang tanaman.

Anak perempuannya masih menangis dalam gendongan, bahkan dengan suara yang lebih tinggi, dan ia berkata kepada anak lelakinya, “Kau sebaiknya meninggalkan mawar itu di sana. Kau harus mandi.”

Anak lelaki itu menoleh dan membalas, “Bagaimana kalau bunga-bunganya berjatuhan tanpa kita tahu?”

“Kau bisa melihatnya besok dan besoknya lagi.”

“Bagaimana kalau aku lupa?”

“Aku akan mengingatkanmu,” kata perempuan itu yang sebenarnya tak terlalu yakin dengan kata-katanya. Apakah benar ia tak akan lupa lagi pada mawar itu dan mengingatkan anak lelakinya untuk melihatnya setiap hari sampai seluruh kelopak bunga berjatuhan?

Arsip Cerpen di Indonesia