Sebatang Mawar

Anak lelakinya sudah berlari ke arahnya dan ia mencekal pergelangan tangan bocah itu dan mereka sama-sama masuk ke dalam rumah. Anak lelakinya segera mandi, sementara ia buru-buru menyiapkan makanan hangat. Anak perempuannya benar-benar tak bisa berhenti menangis. Popoknya basah. Biang keringat. Lapar. Dan Lapar lagi. Untuk beberapa waktu sudah pasti mereka melupakan mawar itu dan sibuk dengan bayi perempuan yang menangis. Bayi yang tak henti-henti menyedot kantong susunya sampai ia merasa seluruh dirinya akan tambah kering, dimulai dari buah dada, perut, kedua tangan, kedua kaki. Semuanya. Ia akan habis tanpa sisa.

Dan itulah yang sebenarnya tengah terjadi, tanpa seorang pun tahu, selain dirinya. Sesuatu tengah mengisapnya dan ia sudah berhenti melawan.

“Apakah mawar tidak sedih ditinggalkan sendirian?” tanya anak lelakinya yang baru keluar dari kamar mandi.

“Kan mawar punya duri. Lupa ya?” katanya sambil mengeringkan rambut anak lelakinya.

“Duri bisa juga bikin mawar tidak sedih?”

“Bisa. Harusnya bisa,” katanya pendek karena tangis anak perempuannya membuatnya sibuk dan ia minta anak lelakinya segera memakai baju yang sudah disiapkan di atas tempat tidur. Dan pelan-pelan rasa sedih merayapi hatinya, seperti biasa. Suaminya mulai sering keluar kota untuk berhari-hari lamanya. Urusan kerja. Sementara, ia tak akan pernah lagi kembali ke dunia itu. Setiap hari ia hanya akan berurusan dengan tangis bayi, dari pagi sampai malam. Sendirian. Dan sayangnya ia tak punya duri seperti mawar. “Aku tidak akan bikin Mama sedih,” kata anak lelakinya yang berdiri di pintu kamar dengan baju tidur bergambar jagoan favoritnya.

***

Hari sudah benar-benar malam saat ia akhirnya bisa menelentangkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tubuhnya semakin ringan saja. Tentu karena ia makin mengering dan hanya menunggu waktu untuk diterbangkan angin. Tiba-tiba ia teringat kepada sebatang mawar kurus dalam pot di sudut halaman. Sesuatu yang tak diduganya. Tadi ia sempat berpikir akan melupakan mawar itu dalam waktu lama, seperti sudah-sudah, yang bahkan ia tak mengingatnya sama sekali kalau bukan anak lelakinya mengangkat dan menunjukkan pot itu kepadanya. Ia berpikir, besok, pagi-pagi sekali, ia akan melihat mawar itu lagi. Sebelum anak perempuannya bangun dan membuatnya tak bisa banyak melakukan hal lain. Pasti saja bunganya sudah semakin kembang. Semakin merah. Suaminya belum akan pulang malam ini—atau kalau pun pulang, sudah larut sekali sampai di rumah. Maka, ia tak akan menunggu.

Arsip Cerpen di Indonesia