Selepas itu, ia akan mencuci cabai, mengupas bawang, dan mengulek sambal di atas cobek. Ia mengulek dengan gerakan berulang seperti orang bergoyang. Betapa semua pekerjaan itu sungguh menjemukan. Jauh dari perangai cantik seorang peragawati.
Bagaimanapun, suaminya harus sarapan di pagi hari, segera, sebelum berangkat kerja. Begitu pula balitanya, yang sangat menggemari ikan asin, juga dirinya sendiri. Suatu kali ia teringat, di masa muda, ia pernah makan di sebuah hotel dengan pisau dan garpu. Serta bunga amarilis dalam gelas besar di tengah meja. Ia duduk menyilangkan kaki sambil berbincang dengan kawan-kawannya yang barangkali sampai detik ini masih cantik, tak seperti dirinya. Ia merindukan makan di tempat seperti itu, dengan hidangan seperti itu, dan berdampingan dengan kawan-kawan seperti itu. Namun, ia tahu, hal semacam itu tak akan pernah terulang dalam hidupnya. Tak akan pernah.
***
Semua orang tahu, perempuan itu memang pernah cantik. Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah membayangkan akan berhadapan dengan setumpuk piring kotor serta wajan licin berminyak di wastafel tua dan berkerak. Sabun cuci piring berwarna hijau bening itu ia tuang ke dalam mangkuk kecil dengan spons berkerut dan kawat cuci. Ia memeras spons itu dan busa-busa mengembang. Ia menggosok piring-piring dan mangkuk dan wajan dan panci dan sendok, perlahan-lahan. Sambil memperhatikan jari-jemarinya yang dulu pernah begitu lembut. Dengan kuku-kuku mengilap berkuteks merah menyala.
Kadang kala, saat perkakas dapur itu benar-benar menggunung, ia benar-benar ingin meminum sabun cuci piring berwarna hijau bening beraroma jeruk nipis itu. Meminum semuanya. Tandas. Sampai ia roboh dan menggelinjang dengan busa-busa keluar dari mulutnya. Dan ia tertawa sendiri. Sabun cuci piring bukanlah racun tikus yang bisa membunuh seseorang. Kalaupun ingin mati, ia bisa saja menggantung diri di bawah pohon mangga atau pohon jambu. Namun, ia belum ingin mati. Seberat apa pun hari-harinya, ia belum ingin mati. Ada gadis kecil mungil tak berdosa yang selalu membutuhkannya.
***
Setiap kali mematut diri di muka cermin, perempuan itu kerap menggumam, “Dulu aku pernah cantik.”
Di masa silam, sebelum menikah, ia tak pernah berangan akan mengesot di lantai sambil mengepel bekas pipis anaknya. Rumah itu tak terlalu lebar, tapi balitanya adalah balita normal yang suka ngompol di mana suka. Gemar merontokkan makanan yang dicekalnya. Suka menumpahkan susu dan semacamnya di lantai. Ia tak tahan dengan lantai kotor, yang licin dan berminyak, apalagi bersemut. Maka, tiap kali balitanya membuat kekacauan di atas lantai, ia akan segera mengesot, mengelap ubin-ubin itu menjadi cling.