Perempuan Itu Pernah Cantik

Namun, nasib berkata lain. Ia malah menikah dengan seorang pemuda yang biasa-biasa saja. Tidak tampan, tidak romantis, tidak juga kaya. Berperawakan ceking dan bermuka tirus. Bekerja di sebuah agen asuransi dan kadang-kadang, kalau ada waktu, mengajari anak tetangga mengaji serta berhitung. Kadang dikasih amplop, kadang tidak.

Kadang-kadang ia berpikir bahwa hidupnya seperti mimpi. Bagaimana bisa ia menikah dengan lelaki yang tak pernah ia bayangkan itu. Ia tak tahu apakah ia mencintai suaminya. Yang jelas, ia takut kehilangan lelaki itu. Jika itu yang dinamakan cinta, mungkin ia memang mencintai lelaki itu. Sangat mencintainya. Dan ia sangat menghormati lelaki itu –meski kerap kali ia sangat jengkel padanya. Lelaki yang sehari-hari hidup dengannya, tapi hampir tak memiliki waktu untuknya dan anaknya. Kecuali akhir pekan yang kadang kala masih disita kerja lembur dan semacamnya.

Sesekali ia sangat ingin duduk di dekat lelaki itu sambil bercerita, betapa hari-harinya teramat berat dan melelahkan dan ia sangat butuh sandaran untuk beristirahat. Namun, semua itu tak pernah ia lakukan. Sebab, setiap pulang kerja, mata lelah yang sama ia temukan di mata lelaki itu. Di mata suaminya.

Sebagaimana suaminya, ia tak pernah bertanya apa saja yang sudah dilalui lelaki itu di luar sana. Ia tak tahu, barangkali, setiap pagi dan petang, lelaki itu harus berjibaku dengan asap dan jalanan macet, di atas motor bututnya. Barangkali ia tidak sempat makan siang. Dikepung pekerjaan yang menumpuk. Ditegur atasannya dan seterusnya…

Melihat mata lelah pencari nafkah itu, ia tak sampai hati dan memilih membiarkan lelaki itu beristirahat dengan caranya sebagaimana ia beristirahat dengan caranya sendiri. Biasanya, selepas makan malam, lelaki itu akan bercengkerama di dalam kamar dengan balitanya. Hingga mereka tertidur saling memeluk. Di sela hari-hari yang berat dan melelahkan, detik itulah yang paling indah dan paling ia nanti. Ketika suami dan anaknya tertidur.

Saat demikian, ia akan kembali ke dapur, membersihkan dan mencuci puing-puing sisa makan malam. Sambil memikirkan bahwa sejatinya hidupnya tidak terlalu buruk. Ia yakin ada seseorang di luar sana yang tak memiliki apa pun, hingga barangkali belum makan sesuap nasi pun sampai selarut ini. Setelah pekerjaan-pekerjaan rumah yang hampir tak ada habisnya itu beres, ia masuk ke dalam kamar dengan wajah semringah. Ia menyelimuti suaminya. Membetulkan letak tidur balitanya.

Sebelum benar-benar memejamkan mata, kerap kali ia melihat dirinya di masa lalu tengah terbang di langit-langit kamarnya. Kadang berjalan anggun di udara. Dan selalu ada suara lembut yang berbisik di ambang kesadaran… Kau pernah cantik. Kau memang pernah cantik. ***

 

Cerita untuk para suami, para istri.

Malang, 2017–2019

Mashdar Zainal. Meluncurkan buku kumpulan cerpen bertajuk Lumpur Tuhan tahun lalu. Lelaki kelahiran Madiun itu suka membaca dan menulis prosa. Tulisannya tepercik di beberapa media.

Arsip Cerpen di Indonesia