Kadang ia sangat jengkel pada balitanya itu, ingin memutar waktu, dan memasukkan bocah itu kembali ke dalam perut. Ia merasa begitu sial telah melahirkan seorang bayi. Namun, beberapa menit kemudian, ia benar-benar menyesal telah berpikiran kejam seperti itu. Bahkan, penyesalan seperti itu kerap membuatnya menangis. Sambil menatap wajah balitanya yang tertidur, ia berbisik ke telinga mungil itu, “Maafkan mama, Nak! Maafkan mama, Nak!”
Beberapa kali, ketika ia sangat lelah, dan balitanya kembali membuat ulah, ia sangat ingin meneriaki balita itu tepat di mukanya, lantas menamparnya atau memukul pantatnya atau mencubitnya. Namun, ia tahu, perlakuan-perlakuan semacam itu tak akan pernah membuat balitanya berhenti. Ia hanya balita, yang hanya tahu makan, menangis, serta buang air. Ia bahkan tak tahu apa yang sedang dilakukannya. Sebab, ia hanya balita yang belum memiliki nalar. Karena itu, ia tak pernah melakukan hal-hal kejam semacam itu kepada balitanya. Sebab, ia yakin, setelah melakukan itu, ia pasti akan sangat menyesalinya. Sangat menyesalinya.
Maka, jika ia sangat lelah, dan balitanya tak henti-henti membuat ulah, ia akan berlari ke kamar mandi. Mencelupkan segenap kepalanya ke dalam air dan berteriak sekencang-kencangnya. Rambutnya basah. Dasternya basah. Napasnya megap-megap. Dan ia tak pernah peduli. Seolah sangat tidak masalah kalau daster basah itu akan membuatnya kedinginan, lalu membuatnya sakit, lalu membuatnya mati.
***
“Aku memang pernah cantik.” Selepas mandi sore bersama anaknya, ia akan berdiri di muka cermin. Sambil menunggu suaminya pulang kerja. Ia berlama-lama di muka cermin, mencari-cari jejak kecantikan yang barangkali masih tersisa. Namun sungguh, ia nyaris tak pernah menemukannya. Kulit wajah yang kencang itu telah mengendur. Persis bentuk tubuh yang menggelambir mirip buah pir. Matanya yang dulu binar telah meredup. Dihiasi garis-garis tipis di tiap sudutnya. Rambut yang dulu pekat mengilap dan selalu tampak basah itu kini kusam dan bercabang, bahkan mulai beruban. Ke mana perginya kecantikan masa muda?
Orang mungkin tak ’kan percaya bahwa di masa muda ia pernah menjuarai kontes kecantikan tingkat kota. Tepatnya tiga kali. Ia diundang ke hotel bintang lima berbaur dengan model-model lain dari berbagai kota. Melenggang di atas panggung. Mempertontonkan kecerdasan serta kecantikan luar dalam. Membuat banyak orang terpukau. Ketika itu ia membayangkan akan mendapatkan seorang suami yang tampan dan kaya. Seorang bintang film mungkin. Dan kelak, kalau ia harus punya anak, pembantunya yang akan mengurus dan ia bisa tetap cantik dari waktu ke waktu.