Tetapi soal Gus Miftah memang lain. Nama lengkapnya Miftahus Surur. Putra satu-satunya Kiai Usman itu selain dikenal jago ngaji, secara biologis ia adalah pria yang terhitung matang dan sempurna. Umurnya sekitar 37 tahun. Tak heran, banyak gadis yang rela antre njagongi pengajiannya. Emak-emak pun tak mau kalah, hanya beda tujuan. Sepertinya mereka berhasrat menjodohkan putri mereka dengan Gus Miftah.
Tak terasa wedang jaheku tinggal seteguk. Aku pun pamit kepada Mbok Pinah, “Bakwan dua, wedang jahe anget satu. Semuanya berapa, Mbok?”
“Lima belas ribu saja, Den”, ujarnya seraya memperbaiki sedekutnya.
Sembari menjulurkan selembar dua puluh ribuan, aku teringat utangku lima ribu kemarin. “Berarti lunas ya Mbok, dengan kemarin.”
“Makasih, Den,” jawab Mbok Pinah.
Aku hanya bisa mengingat kata-kata Gus Rizal. Apa benar Gus Miftah menunda nikah karena gosip santer itu. Ah, mana mungkin. Gus Rizal kalo bicara memang suka seenaknya sendiri. Malam sudah semakin larut, tak kuat mataku menahan rasa kantuk. Yang kutahu tiba-tiba punggungku jatuh melekat kuat tertempel di ubin bak Spiderman. Maklum, santri tidur tanpa beralas kasur yang empuk, kelambu, ataupun selimut. Mungkin agar santri berakhlak tawaduk. Membumi, berpantang tinggi hati dan memberhalakan diri, apa pun jadinya kelak.
***
Paginya, selesai menyimak ngaji Tafsir Jalalayn-nya Gus Miftah, seperti biasa aku nganter ibu ke pasar dan setelahnya aku mampir ke warung Mbok Pinah. “Wedang jahe lagi kan, Den?” tanya si mbok.
“Nasi goreng kecap pedas sama kopi tubruk tanpa gula, Mbok,” pintaku.
Mbok Pinah dengan cekatan membersihkan wajannya yang terlihat seperti bekas osrengan pelanggan sebelumnya.
“Gus, sebenarnya Njenengan tu nyari cewek model gimana? Kalo modis dan bahenol ya Ning Dona itu masuk kriteria, Gus. Kalo pengin dapat hafidzoh dan nurutan ya kayak Ning Isti. Kalo uangnya banyak tapi ngambekan ya Ning Fatma. Lha wong tinggal milih kok, Gus.”
“Bener kata Gus Thohar, Sampean tu sudah berumur, nunggu apa lagi? Nanti teman-teman Sampean sudah bawa cucu, Sampean masih nganter sekolah anak,” gojek Gus Rizal.
Suara gelak tawa terdengar riuh. Baru sadar ternyata aku terjebak dalam dialog Gawagis. Semacam asosiasinya para putra kiai di kampungku. Aku sengaja meletakkan cangkir kopiku di ujung siku sebagai penghambat keakraban. Gasakan demi gasakan bersahutan, beradu di antara bunyi teko air panas yang dituang ke dalam secangkir kopi.