Senyum Gus Miftah

Gawagis pun tertawa riang, seakan puas nggasaki Gus Miftah. Sementara kulihat Gus Miftah hanya senyum ala kadarnya. Mungkin baginya senyum adalah bentuk pertahanan dan perlindungan terakhir. Sebaliknya, bagi mereka, cekikikan sebagai simbol kemenangan semu. Karena mereka juga harus berdamai dengan realitas hidup sehari-hari yang tak jarang menyudutkan mereka.

Aku jadi ingat, pernah dengar kabar kalo Gus Miftah punya daya linuwih. Ia dikenal gampang hafal. Semacam laduni. Dapat ilmu dadakan tanpa harus capek-capek ikhtiar. Minimal bukan hanya Kang Burhan yang cerita. Kalo opini Kang Burhan bisa jadi subjektif, menurutku. Karena dia abdi dalemnya Kiai Usman dan terhitung sering ditraktir Gus Miftah. Namun, banyak penduduk kampung yang terkagum dengan kaweruh Gus Miftah yang terhitung tidak lumrah.

Aku memang pernah dengar slenthingan dari Ning Isti kalo tiap sebelum subuh Gus Miftah selalu nglalar hafalan-hafalannya. Laku itu rutin ia lakukan sampai jelang ngajar tafsir. Lalu ia teruskan dengan mengontrol bisnis ritelnya. Setelah itu ia lanjutkan nderes kitab-kitab kuning koleksinya.

Bila diturut, sebenarnya maklum kalo orang serajin dia bisa secerdas itu. Namun, orang yang tidak tahu prosesnya pasti mengira Gus Miftah punya rapalan laduni.

Aku pernah melihat koleksi buku-buku dan kitab-kitabnya saat diajak almarhum bapak sowan Kiai Usman. Mirip perpustakaan, menurutku. Berderet rapi sesuai klasifikasinya. Terekam kuat dalam memoriku betapa mereka berdua terlihat sangat akrab. Malah kalo kuingat-ingat lagi, garis wajah bapak ada miripnya dengan Kiai Usman. Agak kearab-araban. Itu saja kenanganku.

***

Gus Miftah meninggal dunia. Kabar ini kudapat dari Gus Rizal. Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Awalnya aku sempat tak percaya. Mungkin ini gara-gara Gus Rizal telanjur iri sama dia. Namun, setelah membuktikan saat takziah, tubuhku berturut ikut kaku. Tersirap darahku. Jiwaku mendadak beku. Membatu bagai manekin. Apalagi saat mendengar lantunan suara Yasin dan tahlil berjamaah. Agak lama hatiku teraduk. Napasku menderu layaknya kerbau menarik pedati di terik mentari. Akalku pun tersungkur. Aku harus memberi kabar emak, demikian tekadku.

Teramat sering ia menceritakan kepadaku agar aku niru Gus Miftah. Kalo wajah apa mau dikata, sudah takdir. Minimal meniru laku dan ilmunya. Itulah kata-katanya yang sering menampar telingaku.

Arsip Cerpen di Indonesia