Entah kenapa gosip santer pertunangan mereka lenyap seiring Kiai Usman yang sakit-sakitan dan berujung wafat. Bisa jadi karena beratnya beban sosial dan moral yang dipikul sendirian oleh Gus Miftah. Hingga ia harus menepikan egonya demi melanjutkan estafet pondok dan meneruskan pengajian Kiai Usman.
Atau mungkin ia berangan ingin seperti Imam Nawawi ad-Dimasyqi, Ibn Jarir ath-Thabari, Imam Zamakhsyari, atau sejarawan adz-Dzahabi yang betah menjomblo karena kemasygulannya terhadap ilmu? Ah, itu kan dugaanku saja. Yang jelas ia orang yang alim dan saleh. Minimal itu dibuktikan dengan senyumnya saat membujur kaku. Isyarat kelegaan ruh bercerai dengan jasad. Setidaknya itu menurutku, bagaimana menurutmu? Wallahu a’lam. (*)
Catatan:
njenengan, sampean : kamu
injih : iya
slenthingan : kabar
nglalar : mengulang hafalan
sowan : bertamu
nembung : nembak
nggemesi : bikin gemas
laqab : julukan, predikat
njagongi : nongkrong
gojek : canda
gasakan : gojekan berbau nyindir
trenyuh : tersentuh/prihatin
kaweruh : pengetahuan
nyuwun : minta
ngerti sakdurunge winarah : tahu sebelum terjadi
boyongan : pulang dari pondok untuk menetap di rumah
mbalah : mengajar
Mohammad Farid Fad adalah esais dan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin Kendal. Dia juga mengajar di UIN Walisongo Semarang.