Sembari menyusuri lekuk jalan, aku mulai trenyuh. Gus Miftah yang berkarisma sudah dipocong. Perawakannya yang bikin perawan dan emak-emak kesengsem telah lunas dimandikan. Nafsunya yang tenang dan meneduhkan disalati. Kaweruh laduninya terkubur bersama tubuhnya.
Tak ada penduduk yang tidak melinangkan air mata. Mungkin juga karena bingung siapa penerus Kiai Usman. Atau bisa jadi gara-gara kehilangan asa karena anak gadisnya tidak jadi bersanding dengan Gus Miftah. Pondok sebesar dan seluas itu seolah teronggok muspra tanpa kehadiran Gus Miftah.
Tapi bukankah masih ada Gus Rizal? Selain terhitung adik sepupu, ia juga pernah dipondokkan tujuh tahun di Pondok Keramat yang masyhur karena ilmu alat (gramatika) dan ushul fiqihnya. Ah, tapi bisa apa dia. Setelah boyongan bukannya mbalah kitab. Saban hari malah cuma nongkrong di warung Mbok Pinah.
Aku pernah dengar wejangan Kiai Usman bahwa ilmu itu tidak diturunkan, apalagi hanya ditentukan faktor nasab. Ketekunan dan kegigihanlah yang menentukan. Tidak lupa restu kiai dan doa orang tua.
“Mak, nyuwun diikhlaskan segala kesalahan Miftah,” pinta Nyai Usman.
“Injih, Njenengan juga yang sabar ya Jeng, diikhlaskan,” sahut emakku. Keduanya berpelukan erat. Tak terasa air mataku menetes. Aku sendiri pun bingung kenapa ikut-ikutan nangis seperti mereka. Seingatku, aku baru lihat mereka sekarib itu. Layaknya saudara tua yang lama tak bersua.
Setelah pamitan pulang, emak membisikiku dengan suara parau. “Miftah itu paklikmu. Waktu Bu Nyai dikabarkan mengandung, Kiai Usman langsung gelar tasyakuran. Seisi kampung diundang, tak terkecuali. Yang ditugasi mimpin doa justru bapakmu.” Bagai tersambar petir. Kaget bukan kepalang aku mendengar tausiah emak.
Dalam perjalanan pulang, pikiranku melayang. Yang jelas ia mati muda. Ia juga dikenal gak mau merepotkan orang lain. Aku jadi ingat gosip santer penduduk kampung kalo Gus Miftah punya linuwih lain yang unik. Ngerti sakdurunge winarah. Apa gara-gara itu ia keburu mati muda belum menikah? Jangan-jangan dia gak mau merepotkan istrinya nanti kalo ditinggal mati dalam usia muda.
Ah, mana mungkin, soalnya aku pernah lihat sendiri saat Ning Fatma malam-malam turun dari mobilnya Gus Miftah. Awalnya aku gak ngeh kalo perempuan itu Ning Fatma. Tapi, setelah turun di depan ndalemnya dan disambut Kiai Jakfar sendiri, aku makin yakin kalo mereka sebenarnya ada hubungan. Yang jelas bukan pertemanan biasa.