
Kerajaan kami serba tak beraturan. Aku malah kikuk sendiri, entah ini sejenis pujian atau sejenis hinaan akan kehadirannku yang dianggap lebih. Remang-remang siang di kala itu, aku menyisir daundaun hutan satu persatu, berusaha menjernihkan air yang mengeruh. Si Raja memerintahkanku untuk bertugas di kawasan rimba berdaun buku. Selain itu, aku juga mendidik anakanak kelinci agar pandai belajar berbicara dan mem baca. Beberapa temanku tak kalah beda, si Kukang ditugaskan menantikan ayam jantan bertelur. Si semut ditugaskan memindahkan besi untuk dipancangkan di tiang pinggir istana kerajaan. Si Ulat ditugaskan untuk menganalisa jenis-jenis batu apa saja yang berada di sekitar kerajaan. Kami bersama, tapi terkadang tak bersua.
Lantas, si Siput? Dia tengah asyik meracik beberapa makanan untuk disajikan kepada tuan ratu. Ia tengah berusaha berjalan meniti tangga kerajaan dengan sangat cepat, agar si Ratu sesegera mungkin cepat mencicipi makanan. Iya! Tangga istana kerajaan luar biasa, ada 7 tingkat tangga yang harus dijejali oleh si Siput. Ia tergopohgopoh sekuat hati agar sampai di pintu kamar tuan ratu dan membawa segonjong makanan lezat. Selalu setiap hari.
Rabu Pagi, di saat aku merebahkan tubuhku dalam batu-batu sungai, kemudian segenang air mendecis di pinggir batu. Aku kira, batu yang kutenggerkan juga keberatan menahan tubuhku, hingga ia berpeluh. Tidak. Aku tak berani mengejutkan soal apa yang tengah terjadi di balik batu.
“Cangkangku sudah retak!” Teriakkan keras itu, sudah cukup mewakili bahwa ada sesuatu yang tengah sakit hati. Aku mengenali suara itu. “Aku tak pandai berlari!” Teriakkan kedua sejurus merembes kembali ke gendang telingaku. Begitupun, rasa penasaranku semakin men jadi-jadi. Yang aku lakukan, sibuk mengamati benda kecil munyil itu. Ia tengah berusaha merawat cangkangnya yang lusuh. Ia tengah berusaha melampiaskan sakitnya pada dirinya sendiri.
Sejurus, Semut, Belalang, Kukang, Ulat, Jangkrik, dan Cacingpun berusaha menenangkan seonggok daging bertempurung itu.
“Sabar, Siput. Kami mengerti dengan apa yang tengah terjadi. Kamipun sama.” kalimat-kalimat sejenis ini kemudian bermunculan memenuhi keriuhan pagi saat itu. Aku? apa yang mesti aku lakukan? Aku tidak bisa berujar sejenis dengan pernyataan itu. Lebih memilih tidur dan mendoakan Si Siput semoga ia mendapatkan keringanan oleh tuan Raja.