
Rabu khidmat itu, tak berjeda hingga siangnya. Aku pikir, temanku yang paling rajin ini akan berhenti mengoceh. Akupun menyaksikan bagaimana ketidakadilan menempanya. “Siput, bisakah engkau membawakan makanan lezat untuk tuan Ratu sekarang?” ujar Panglima kerajaan, si Merak.
Aku pun juga tau, beberapa menit yang lalu, si Siput sudah mengantarkan beberapa jenis makanan pada Paduka Raja.
“Maaf Panglima, aku baru saja mengantarkan makanan untuk sang Raja. Aku lelah.”
Mendengar irama dari mulut si Siput, panglimapun naik pitam.
“Aku juga lelah Siput! Aku juga butuh istirahat! Tapi ini tugasmu! Kamu tak boleh berdalih! Segeralah temui sang Ratu dan bawakan makanan terbaiknya!”
Aku juga tahu, semua mata menelaah pada Siput. Begitupun dengan aku. Yang jelas di kerajaan antah barantah ini, ada beberapa anggota kerajaan yang tak kebagian tugas. Akupun juga tau, rutinitas yang dilakukan si Siput bukanlah bagian dari keahliannya. Siput memang suka memasak makanan dan menambahkan resep terbaik di dapur kerajaan. Namun, Si siput tak pandai berlari apalagi membawa makanan seberat badannya melewati tangga bertingkat tujuh itu. Lebih lagi, si Siput tengah asyik menikmati sisa-sisa makananya.
“Crackkkkkkkkk” piring si Siput jatuh dan bertebaran bersepah-sepah di lantai. Dia oleng. Bukan! ternyata membersamai dengan cangkangnya yang rengkah. Ya Tuhan, apa yang tengah kusaksikan? Ia tak punya cangkang lagi. Perutnya yang kisutpun tertancap runcingnya bongkahan piring.
“Tolonglah!” aku sudah berusaha menolong. Memutarkan kepalaku, agar semua benda runcing itu bisa aku keluarkan dari daging si Siput. Apalah daya, segalanya telah aku lakukan. Aku juga keliuangan, cangkangku yang besar, serta badanku yang berat tak mampu menolang banyak. Mereka? Entah! Mereka kemana? Di saat genting ini, tak satupun yang kutemukan melitasi anak tangga. Hanya kami berdua.
“Segeralah ke lantai satu! Cepatlah!” lulungan si Siput mampu mengusik langkahku yang sudah kuusahakan sigap.