Siput dan Kura-Kura

Siput dan Kura-Kura ilustrasi Istimewa-3.jpg
Kura-Kura ilustrasi Istimewa

Napasku tersegal-sengal beringsut, berlari dengan tubuh tambun tergopoh-gopoh. Darah si Siput sudah merembes berserak di lantai. Memenuhi segaris anak tangga di lantai lima. Sebisa dan secepatnya kusibakkan jendela lantai satu, kemudian, “Teman-teman! Hentikan pekerjaan kalian! Segeralah berlari menuju tangga! Selamatkanlah temanku. Cangkangnya sudah koyak, pecahan pring runcing sudah berserak disekujur tubuhnya. Daging kecil itu, sudah dilumuri darah yang terus merembes!” Secepat kilat, semua anggota kerajaan berpacu menuju tangga lantai lima. Untunglah ada si Jangkrik, diantara mereka dialah yang paling lihai dalam berlari.

“Dia harus istirahat. Dia harus memulihkan energinya. Masalah cangkang, kami masih memikirkan, apakah cangkang yang baru akan cocok untuknya,” ujar dokter Kancil. Syukurlah. Aku menghela napas panjang keluar dari bilik si Siput.

Siput sudah terbaring sakit. Namun, aktivitas kerajaan harus dilaksanakan apapun keadaannya. Baiklah, inilah bagian cerita tentangku si Kura-Kura yang malang. Buku-buku dari dahan-dahan yang masih baru sudah berserak untuk kurapikan. Anakanak kelinci yang lucu-lucu sudah siap pula untuk menerima materi ajar sepagi ini. Tak ada yang beda hari ini. sama rata dan sama rasa.

Si Kura-Kura yang malang. Hendak kemana ingin mengadu. Ia sudah memberikan pengaduan panjang untuk segala gundah yang membuncah. Penasehat kerajaan, bahkan sejenis dengan ia sudah ia temui demi sebuah penjelasan. Aku tak kuat menenpa sebongkah beban yang tak pernah bersandar sama sekali. Cangkangku akan bernasib sama dengan si Siput yang malang. Aku akan berakhir dengan air mata seperti Siput yang berkeliaran sendiri sepanjang tangga membawa makanan lezat untuk sang ratu.

Hari ini, Jumat mendebarkan. Saat onggokan panjang aku keluhkan langsung kepada Padukan raja. Aku tak bisa berlari. Aku juga tak bisa berjalan dengan kecepatan seperti kijang berjalan. Aku, si Kura-Kura yang hanya mengandalkan langkah yang terseok-seok meniti jalan berkesimpangan. Aku, hanya Kura-Kura yang dapat menangis jika beban terlalu sakit kubendung.

“Bagaimana dengan buku-buku di dahan baru? Ia sudah siap dibagikan? Para kelinci sangat memerlukan beberapa buku?” Bahkan seonggok kisah sudah aku ceritakan perihal aku pada Tuhan. Semoga Tuhan mem balas segala keluh dan kesah yang berkepanjangan.

“Aku sudah berusaha Paduka. Aku tak bisa memaksakan segala sesuatu yang tak mampu aku lakukan, Paduka. Menyeberangi sungai, yang terjal. Tamu yang diam-diam terasa aneh untuk merembes tiris dalam air mata.”

Arsip Cerpen di Indonesia