Kippenwaterzoi dan Seorang Penulis Muda

Elske menyodorkan semangkuk sup yang sama di depanku, menyilakanku makan. Tentu aku bahagia, menikmati sup itu membuatku kian kerasan di taman ini, di sisi Elske. Akhirnya kami pun bercakap masalah tulisan. Elske menjelaskannya dengan campuran sehidang senyum, kadang kala sambil membetulkan tangkai kacamatanya, hingga bayangan sepotong senja itu jatuh menyemburat warna lembut di cembung lensanya. Sedang wanita tua itu tak henti menggetarkan bibirnya dengan isi sup pada mangkuk yang ia pegang. Anjingnya kadang berdiri dengan dua kaki depan menyentuh paha wanita tunanetra itu. Ia tertawa, anjingnya menggonggong, hampir seirama dengan kepak ratusan merpati yang pindah ke sisi taman yang lain.

Setelah beberapa saat kami berbincang, sempat juga Elske kutanya cara menulis yang bagus. Ia sejenak mematung, pandangannya mengitari kaki langit. Tangan yang bertopang di atas lututnya, menyentuhkan jari ke bibir tipisnya.

“Baiklah!” ia mengeluarkan laptop dari dalam tasnya.

“Aku akan menulis tentang Kippenwaterzoi,” ia melirik mataku dan tangannya menepuk halus punggung wanita tunanetra yang duduk di sampingnya. Wanita itu mengakhiri makannya yang kulihat masih nikmat. Lalu memulai ceritanya, persis saat tangannya menggosokkan pelan sehelai tisu ke bibirnya.

Jemari Elske lincah melemparkan jasad ratusan huruf di layar laptopnya, memanjang rata dengan pengaturan justify. Huruf-huruf yang ia susun di laptopnya itu semua berasal dari apa yang dikatakan wanita tunanetra itu. Elske hanya menyalin kata-kata yang diucapkan si wanita, kadang menunggunya sesaat saat si wanita tunanetra tengah berpikir, mengerutkan dahi untuk menemukan kata-kata yang indah di sela-sela diamnya. Dan Elske akan mengetik lagi jika wanita itu sudah nyerocos mirip anjingnya yang menggonggong.

Intinya, aku pun tahu bahwa Kippenwaterzoi adalah semacam makanan berbentuk sup. Pada awalnya makanan ini bernama Waterzooi, terbuat dari ikan, baik air tawar maupun laut, mengingat daerah tutorialnya yang dekat dengan laut.  Namun, sekarang ini, Waterzooi menggunakan bahan yang lebih mudah, yaitu ayam. Bahan yang berubah ini turut mengubah nama makanan ini menjadi Kippenwaterzoi.

Elske menulis semua itu dengan bibir tak usai menggantung senyum. Di balik kacamatanya terlihat bola matanya berbinar. Saat kuteliti, apa yang ia tulis sama persis dengan yang diucapkan wanita tunanetra. Aku jadi berkesimpulan, hari ini, tepatnya ia bukan menulis, tapi menyalin. Namun biarlah, toh apa pun yang terjadi di depanku kini, yang penting keinginanku tercapai untuk bertemu dengan penulis muda terkenal, yang selama ini hanya kukenal lewat Instagram.

Arsip Cerpen di Indonesia