Kippenwaterzoi dan Seorang Penulis Muda

Saat kelam mulai menyambangi taman, wanita itu menyudahi ceritanya tentang Kippenwaterzoi. Elske semringah seraya melipat laptop dan memasukkannya ke dalam tas. Kami pun berpisah, mereka beranjak ke arah kafe, melewati jalan yang dipagari ribuan lampu, wanita tunanetra itu berjalan agak terseok dengan tangan berpegang ke lengan Elske. Sedemikian hormatnya Elske kepada wanita itu hingga ia rela membantu menjinjing tasnya dengan beban yang terlihat agak berat, bahkan kadang rela membantu anjingnya saat talinya tersangkut di pangkal sebuah tiang.

Aku hanya menggeleng, yang kudapatkan kini, bukan bertemu Elske dengan sosok seorang penulis, tapi lebih pada seorang pembantu, yang melayani tuannya jalan-jalan ke taman.

Hari-hari setelah itu, aku kembali bertemu Elske di beberapa tempat, di Desa Kinderdijk, Kanal Amsterdam, Taman Bunga Keukenhof, Maastricht Vrijthof, Bloemenmarkt, dan di beberapa tempat lain di sana, tapi masih belum seperti yang kuinginkan, Elske masih bersama wanita itu, lengkap bertiga dengan anjingnya. Lalu ia hanya menulis hal-hal yang diceritakan wanita itu, tak pernah menulis dari pikirannya sendiri, walau aku tak menampik, cerita wanita itu yang ia tulis di taman kecil Kota Bernisse beberapa waktu lalu sudah dimuat di media dan menjadi topik hangat warganet. Bisa mungkin karena cerita itu hanya pengaruh nama Elske yang sudah terkenal. Dan biasanya, ia akan mendapat upah Kippenwaterzoi jika ceritanya yang Elske dapat darinya dimuat.

Akhirnya aku pun lebih penasaran kepada si wanita tunanetra itu ketimbang Elske. Saat kami bertemu, aku lebih menanyakan wanita itu kepada Elske, tapi ia tetap tak bercerita lengkap perihal wanita itu.

Suatu musim gugur, aku baru bisa bertemu Elske hanya berdua, tanpa wanita dan anjing itu. Kami menapak jalan berbalut daun kering dan hamparan guguran bunga, jalan itu meliuk ke sebuah gereja di kawasan Maastricht. Kala itu, aku lebih banyak bertanya tentang si wanita tunanetra itu daripada soal menulis. Butiran dingin menggelinding pelan dari sudut mata Elske saat ia memulai ceritanya. Sisa bayangan wanita itu seperti berputar dalam bola matanya yang biru beku. Aku semakin yakin, betapa wanita itu sangat berharga dalam hidupnya.

Kata Elske, dirinya bertemu wanita tunanetra itu di sebuah halaman gereja, ketika perayaan hari Paskah. Wanita itu mengaku bernama Margreet Wigburg. Elske terkejut, karena nama itu sudah terkenal di jagat sastra. Sejak buta, suaminya meninggalkannya begitu saja. Ia hanya hidup dengan seekor anjing kesayangannya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain sambil mengharap uluran tangan para dermawan. Ia mengaku pernah menulis banyak buku sebelum kecelakaan membuatnya buta. Buku-buku dan peralatan menulisnya tersimpan di perpustakaan pribadinya yang sudah disegel oleh suaminya, termasuk sertifikat, kartu ATM, dan surat-surat penting lainnya. Celakanya, orang-orang-bahkan fansnya pun-tak mengenal Margreet lagi. Mereka tak percaya apabila ia memperkenalkan diri bahwa dirinyalah penulis hebat itu, tapi mereka tetap tak percaya, dengan alasan Margreet, si penulis itu, tidaklah buta.

Arsip Cerpen di Indonesia