Kippenwaterzoi dan Seorang Penulis Muda

Elske merasa iba padanya. Akhirnya ia mengajak wanita itu tinggal bersamanya. Saat bersama Elske, ia pun tak bisa meninggalkan hobinya, berteman dengan seekor anjing dan melahap Kippenwaterzoi setiap hari. Elske tak keberatan dengan hobi itu meski Elske harus mengeluarkan uang setiap hari. Sebab, wanita itu suka membantu pekerjaan Elske di rumah, terlebih-yang paling Elske suka-ia juga membantu Elske yang masih belajar menulis saat itu untuk bisa menghasilkan tulisan-tulisan bagus kelas dunia.

“Kini, bakat menulisku sebenarnya masih ada, tapi takdir menghalanginya untuk sampai ke pembaca. Sebab, pembaca lebih percaya bahwa seorang Margreet sudah mati ketimbang percaya Margreet hidup buta seperti ini. Aku ingin tetap jadi cerpenis yang selalu punya cerita bagus, kau yang menuliskannya dan kau yang mengirimkannya ke media atau menerbitkan dalam bentuk buku, dan cantumkan namamu sebagai pengarang cerita itu,” ungkap wanita itu suatu waktu, tapi Elske tak langsung menyetujuinya. Wanita itu tetap memaksa hingga Elske pun melakukan apa yang ia mau: menulis banyak hal dari apa yang diceritakan wanita itu, lalu mengirimkannya ke media dan diterbitkan dalam bentuk buku, hingga Elske jadi penulis terkenal yang kaya raya. Selama itu, tak satu pun ada yang tahu bahwa karya Elske adalah karya Margreet yang telah buta.

“Lalu kenapa kamu sekarang sesedih itu?” tanyaku saat kami sampai di pintu pagar gereja. Elske menghentikan langkah, ia menatap wajahku tajam dan muram.

“Aku sebenarnya sampai saat ini tak bisa menulis. Kebesaran karya dan namaku bertopang permanen pada bakat wanita tunanetra itu. Tapi tak ada yang tahu kecuali kau. Sedang saat ini dia sudah meninggal, otomatis aku tak bisa menulis,” Elske menunduk sedih. Air matanya mirip daun-daun yang gugur. Aku terkejut mendengar itu.

Elske kemudian memintaku untuk menulis cerpen tentang Kippenwaterzoi untuk memenuhi permintaan terakhir wanita itu sebelum meninggal. Aku pun mengiyakan, demi mengurangi rasa sedih Elske. Berminggu-minggu aku tetap kebingungan atas kejadian yang tak terduga itu, hingga cerpen yang Elske pinta hanya selesai pada judulnya: “KIPPENWATERZOI DAN SEORANG PENULIS MUDA”.

 

GT, 07.19

A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, dan artikel dimuat di berbagai media massa. Juara II Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional FAM 2015. Buku cerpennya yang telah terbit berjudul Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Ia juga guru bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP Al-Huda Gapura Timur, Gapura, Sumenep, Madura.

Arsip Cerpen di Indonesia