Selagi Ia Menulis Cerita Pendek Ini

Kau tergelak, ia menyeringai.

“Teman-teman sebayaku sudah menikah semua. Rata-rata sudah punya anak balita.”

“Jadi, kamu ingin segera menikah?” ia kembali bertanya.

Kau menoleh, mencari-cari sesuatu dari bola matanya. “Kamu tidak merokok, kan?” kau seolah mengalihkan pembicaraan.

“Ya,” dia menaikkan kedua alisnya.

“Bibirmu merah dan seksi.”

“Jangan bilang kau ingin mencium bibirku.”

Kau kembali tergelak. Kali ini tawanya pun berderai.

“Kau belum menjawab,” ucapnya setelah tawanya reda.

“Yang mana?”

“Apa kamu ingin segera menikah?”

Kau menghela napas, “Menurutmu?”

Ia menggedikkan bahu.

“Aku sudah tiga puluh tahun. Sebentar lagi keriput, lalu menopause. Kalau nggak cepat-cepat menikah, tidak akan ada lagi laki-laki yang mau denganku.”

“Kata siapa?”

“Maksudnya?”

“Tidak ada laki-laki yang mau menikah dengan perempuan yang sudah menopause.” Perjelasnya.

“Kata orang lah,” kau terlihat jengkel.

“Memangnya menikah hanya untuk berkembang biak? Perempuan menopause pun masih bisa melakukan hubungan seks. Kalau nikah cuma untuk berkembang biak, apa bedanya kita dengan hewan?”

Kau kesal mendengar jawabannya. Kau memilih bungkam, tak menggubrisnya lagi. Lima menit kalian dibungkus sepi, sebelum bus Mayasari nomor 9B yang kalian tunggu tiba. Ia bangkit dari duduknya, menoleh sejenak dan berkata, “Aku pulang, ya.” Kau hanya mengangguk.

Saat menulis cerita pendek ini, ia teringat, ia langsung mengempaskan bokongnya di atas kursi bus, lalu terlelap sehingga tidak sempat menoleh dan melambaikan tangan kepada dirimu yang masih terduduk di halte yang sepi dan gelap itu. Saat ini pula ia baru sempat bertanya kepada dirinya sendiri, “Kenapa aku tak mengantarmu dulu kembali ke kosmu di belakang Grand Indonesia? Kenapa aku menyetujui saranmu untuk mengantarku ke halte bus karena sebagai anak Bekasi, aku tak tahu apa-apa tentang wilayah itu?”

Mungkin karena aku masih berumur delapan belas tahun, jawab hatinya. Ragu.

***

Arsip Cerpen di Indonesia