SELAGI ia menulis cerita pendek ini, ia teringat dengan pertanyaanmu, “Apakah kamu mau menikah denganku?”
Umurnya baru delapan belas tahun waktu itu dan ia bingung hendak menjawab apa untukmu. Terlebih ketika kau bercerita bahwa kau menulis sebuah novel tentang hubungan kalian berdua. Seorang perempuan berumur tiga puluh tahun yang berpacaran dengan laki-laki berumur delapan belas tahun yang tengah duduk di kelas dua belas SMA.
“Tapi, editor penerbit G menolaknya,” ucapnya. “Katanya, tokoh laki-lakinya kurang rasional. Mana ada anak laki-laki seumuran itu begitu dewasa. Sementara yang perempuan sudah tua tetapi justru kekanak-kanakan. Eh, dia belum pernah saja ketemu kita berdua, ya,” ujarmu sembari tergelak-gelak. “Aku ingin kirim naskah novel itu ke Paman Yusi dan Mas Sulak. Mau tahu pendapat mereka apa.”
“Bisa jadi, review mereka jauh lebih sadis dari editor itu.”
“Eh, kamu mau kan nikah denganku?” kau bertanya lagi.
Ia menghela napas. “Ya, kalau aku sudah lulus kuliah dan bisa selesaikan novelku.”
“Ya ampun, lama sekali. Lima tahun lagi. Aku sudah berumur tiga puluh lima tahun lebih. Entar susah dapat anaknya.”
“Siapa yang peduli?”
Ia tersenyum. Kau juga tersenyum. Lalu, kalian membahas kelas menulis novel yang mempertemukan kalian, juga impian-impian tentang novel yang tak kunjung selesai ditulis.
***
IA masih menulis cerita pendek ini, ketika ia tiba-tiba teringat padamu dan sebuah rasa rindu menjalari dadanya. Sebuah giginya, di bagian depan, agak goyah sejak sebulan terakhir. Ia memperhatikannya, pada bagian rumpun gigi itu ada sebuah lubang kecil, hitam, dan menguarkan bau agak busuk. Ia ketakutan sendiri dan tak sabar ingin mengunjungi dokter gigi. Ia takut gigi depannya tanggal dan ia semakin terlihat tua dan tak menarik, sementara ia belum menikah di usia tiga puluh tahunnya.
Saat cerita pendek ini hampir selesai ia tulis, ia tiba-tiba memahami akan makna pertanyaan yang kau lontarkan di halte malam itu. Tiba-tiba saja ia ingin duduk di halte itu lagi bersamamu dan menjawab dengan cepat tanpa berpikir demikian lama, bertahun-tahun, sampai kau merasa lelah dan memilih jalan lain untuk bahagia. Seharusnya ia segera menjawabmu malam itu, “Ya, aku mencintaimu.” (*)
Pali, April–Agustus 2019
Judul cerpen ini terinspirasi dari judul puisi Norman Erikson Pasaribu, “Selagi Ia Menulis Puisi Ini,” dalam buku puisi “Sergius Mencari Bacchus” (2016).
Guntur Alam. Menulis cerita pendek di koran sejak 2010. Buku kumpulan cerita pendeknya “Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang” (2015). Sekarang dia menetap di kampung halamannya. Bisa diajak mengobrol via Twitter di @AlamGuntur.