Selagi Ia Menulis Cerita Pendek Ini

IA masih menulis cerita pendek ini, saat ia pun teringat dengan obrolan bersama teman baikmu.

Ia dan temanmu itu bertemu secara tidak sengaja di Taman Ismail Marzuki, pada sebuah acara literasi. Ia berusaha mengingat-ingat acara apa itu. Tapi, ia tak mampu mengingatnya. Hal yang menempel di kepalanya hanya ia membeli buku puisi teman baikmu itu. Sebuah buku puisi yang memang sudah ia dan kau tunggu sejak lama. Di buku puisi itu, teman baikmu itu menuliskan sebuah puisi untukmu dan di kata pengantarnya, teman baikmu menyebut namanya.

Teman baikmu itu datang bersama kekasihnya. Ia dan kekasih teman baikmu belum pernah berjumpa sama sekali. Ia terlihat kikuk dan bingung mau memulai obrolan. Padahal, jika saja hanya kalian bertiga; kau, ia, dan teman baikmu itu, kalian sudah pasti akan mengobrol banyak hal. Apa saja. Bahkan, kalian tak segan tertawa keras-keras sampai pengunjung lainnya merasa terganggu, tetapi kalian tidak peduli.

“Sudah lama, ya,” teman baikmu membuka obrolan.

“Ya,” ia menjawab sembari memutar-mutar sedotan plastik pada minuman dinginnya. “Sudah tiga tahun sejak aku dan ia berpisah.”

“Terakhir kali kita ketemu saat makan ramen di Grand Indonesia. Malamnya ia meneleponku. Curhat sampai pagi.”

“O ya?” ia terkejut. Saat menulis cerita pendek ini, ia mengingat-ingat ekspresi terkejutnya. Namun, ia gagal untuk menggambarkan detailnya.

“Katanya, kamu menolaknya. Bahkan, kamu yang menurutnya baik dan mencintainya juga menolaknya. Ia merasa tidak pantas untuk dicintai dan kembali bertanya, untuk apa ia hidup?”

Ia merasa kerongkongannya kering. Diisapnya air minum dingin yang ternyata tak mampu menghalau rasa kering itu.

“Aku nggak nolak, kok.” Suaranya bergetar.

“Tapi, kamu nggak mau nikah sama dia, kan?”

“Aku baru delapan belas tahun waktu itu.”

Senyap.

“Ya,” teman baikmu menjawab lirih. “Kamu terlalu muda untuk menikah. Jika saja kalian seumuran. Aku yakin kalian akan menikah dan bahagia. Tapi, kenapa cinta harus melihat usia?”

Sampai minumannya tandas dan ia berpisah dengan teman baikmu itu, ia tak bisa menjawab pertanyaan yang teman baikmu lontarkan. Kekasih temanmu juga tak berkata apa-apa selama mereka duduk berhadapan di meja yang sama.

***

Arsip Cerpen di Indonesia