BUTET

“Kebanyakan orang pasti tergoda untuk mengganti nama bila berada atau berasal dari tempat segemerlap Amerika. Menyesuaikan diri, kata mereka. Begitu mudahnya mereka murtad pada nama lahir demi sepotong nama lain yang dianggap lebih manjur, bawa hoki, dan ampuh untuk menangguk popularitas.”

“Mereka cuma menggenapkan pepatah ‘di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’,” ujar Butet. Seakan membela kaum murtad tersebut sekaligus menunjukkan kerendahan hati.

“Memang benar. Menyesuaikan diri juga tak seharusnya membuatmu melupakan atau bahkan menghapus jati diri.”

Perempuan itu mengangkat bahu, memberiku jawaban abu-abu. Dia menyamankan posisi duduknya, mengabaikanku sejenak. Terdengar suara pramugari yang menyampaikan beberapa informasi. Aku tak menyimak seutuhnya karena masih ada beberapa tanya sarat rasa penasaran akan perempuan yang duduk di sebelahku ini.

“Di sini kau bekerja? Kuliah?” tanyaku.

“Tidak keduanya. Aku ke sini untuk menjenguk bibiku. Tepatnya, menghadiri undangan jamuan makan. Dia berulang tahun dua hari lalu.”

Jadi, dia bukan penduduk kota ini? Aku tak ingin terdengar seperti seseorang yang tengah menginterogasi. Aku sangat ingin tahu tentangnya, namun aku juga tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya.

“Kau tinggal di mana?”

“Di Desa Haranggaol, tepi Danau Toba. Kau tahu?”

Lagi-lagi aku terkaget. Jawabannya tersebut menggenapkan ‘keajaiban’ tentangnya. Wajah dan penampilan seratus persen bule. Nama, bahasa, dan tempat tinggalnya seratus persen Indonesia. Mungkinkah kepribadiannya juga?

“Kau lahir di sana?”

“Tidak,” jawabnya.

“Aku lahir di Washington. Ketika aku masih duduk di bangku SMA, ayah memutuskan untuk pindah ke Indonesia. Di sana aku melanjutkan sekolah dan kuliah.”

“Mengapa pindah ke pinggiran Danau Toba sana?”

Perempuan itu kembali angkat bahu.

“Mengapa tidak? Indonesia juga bagian dari kami. Tanah Batak adalah tempat di mana urat akar silsilah kami tertanam. Ke sanalah kami pergi. Ayahku sudah jemu dengan pekerjaannya. Dia menjual seluruh sahamnya. Menyerahkan beberapa perusahaan kecil di sini untuk dikelola keluarga, lalu kami pergi menikmati ketenangan hidup.”

Arsip Cerpen di Indonesia