BUTET

Kupilih untuk membiarkan ibu. Mungkin dia tengah memikirkan sesuatu. Nanti dia akan berinisiatif sendiri untuk mengajakku bicara. Aku merebahkan tubuh di sofa. Kupejamkan mata. Kubolak-balik tubuhku, kadang terlentang kadang telungkup. Lamat-lamat, kudengar ibu bersenandung. Kutajamkan pendengaran demi menangkap lagu apa yang mengalun dari bibirnya.

O Tano Batak andigan sahat

Au on naeng mian di di ho sambulokki

Molo dung biccar mata ni ari

Lao panapuhon hauma i

Denggan do ngolu siganop ari

Dinamaringan di ho sambulokki

 

Aku terkesiap. Lagu itu ku­kenal dengan baik. Walau sudah lebih dua puluh tahun tidak menjejakkan kaki di Tanah Batak. Bukan berarti lagu itu alpa dari pendengaranku. Benakku sibuk bekerja, apa yang ada dalam pikiran ibu sekarang seiring dia menyanyikan lagu itu? Benarkah dia tengah merindu? Melintas pula kata-kata Butet di kepalaku. Kutarik napas panjang. Aku jadi tak bisa tidur sama sekali.

 

Medan, 2019

 

Arsip Cerpen di Indonesia