Aku menarik napas sejenak. Berpikir, keputusan semacam itu hanyalah bualan. Zaman sekarang, siapa yang rela melepas kemapanan demi sesuatu yang terdengar omong kosong?
“Lalu, apa yang dikerjakan ayah dan ibumu di sana?”
“Ayah dan ibuku suka bertani. Mereka berladang, menanam padi dan bawang merah, serta punya beberapa pohon mangga. Kami juga memelihara sejumlah kambing dan babi.”
Kupikir, walau telah melepas pekerjaan dan kemewahan yang mereka miliki di sini, mereka masih akan menganut gaya hidup ala negara barat di tepi Danau Toba sana. Tinggal di villa yang dibentengi pagar beton menjulang di atas tanah beberapa hektar.
Kupikir mereka akan hidup ala kaum berada, menjaga jarak dengan masyarakat. Segalanya cukup hingga tak perlu mengotori tangan dengan pekerjaan-pekerjaan kasar. Kini dalam bayanganku tampak ibunya yang berasal dari Kanada itu belepotan tanah di ladang dan bergaul dengan inang-inang di pasar.
“Mengapa ayahmu tidak kembali berbisnis di sana?”
“Dia sudah membuat pilihan dan aku menghargainya. Lagipula kata ayahku, apa yang diberikan alam sudah cukup untuk kehidupan. Bahkan apa yang kami kerjakan dan hasilkan dari tanah bumi pertiwi cukup melimpah. Persis seperti dalam lagu klasik yang benar-benar merepresentasikan betapa subur tanah Indonesia.”
Aku mendengus. Aku tahu lagu apa yang ia maksud dan potongan-potongan liriknya melintas begitu saja dalam kepalaku. Lirik-lirik usang yang menurutku tinggal sejarah. Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, ….ikan dan udang menghampiri dirimu…, tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman….
“Kau sendiri tinggal di mana dan bagaimana kehidupanmu?” dia balas bertanya, seakan menuntut balik penjelasan tentang diriku sebagaimana hal-hal yang kutanyakan tentangnya.
Kukisahkan pula secara singkat perjalanan hidupku. Aku bermarga Sianipar, baru saja menamatkan S2 di salah satu universitas di Singapura. Kunjunganku ke Washington untuk memenuhi undangan wawancara kerja di salah satu gedung pencakar langitnya. Betapa bangga aku ketika bercerita.
“Tak ada niat untuk kembali ke kampung halaman?” tanyanya tiba-tiba.
Kusadari, prinsip dan tujuan hidup kami berlawanan arah. Di atas pesawat ini titik persinggungan kami. Entah apa yang direncanakan takdir dengan pertemuan ini, aku tak tahu. Aku hanya terdiam.