BUTET

“Bukannya aku ingin menggurui, tapi kupikir mengaplikasikan ilmu yang telah diraih untuk membangun kampung adalah pekerjaan mulia. Ada banyak potensi yang bisa dikembangkan di sana.”

Kutahan bibit-bibit emosi yang mulai berkecambah dalam hatiku. Dia yang hanya memiliki sepercik darah Indonesia dalam tubuhnya malah berkhotbah panjang lebar padaku. Aku murni keturunan Indonesia tanpa ada campuran apa pun?

***

Penerbangan panjang membuat tubuhku menderita jetlag yang cukup parah. Bahkan ketika lift yang kutumpangi mulai bergerak naik, aku sempat sempoyongan dan mengira masih berada di dalam pesawat. Setiba di depan apartemen, aku menumpukan tubuh ke dinding sembari menunggu pintu dibukakan dari dalam.

“Mak, aku sudah pulang,” seruku sembari masuk. Kuseret koperku ke dalam kamar. Menumpukkannya bersama tas dan seabrek barang bawaan lainnya. Kuputuskan untuk langsung beristirahat. Aku keluar kamar sebentar dan menuju dapur, mengambil segelas air untuk melegakan tenggorokanku yang terasa kering. Perhatianku tersita pada ibuku yang tengah duduk di atas kursi rodanya, menatap keluar dinding kaca.

Sudah hampir dua tahun ini ibu menderita stroke. Pergerakannya terbatas dan tak bisa lepas dari kursi roda. Karena aku ingin memberinya perhatian maksimal, kuboyong dia bersamaku untuk tinggal di sebuah apartemen di Singapura. Kubayar seorang perawat untuknya, namun bukan berarti aku lepas tangan merawatnya. Hanya itu hal terbaik yang bisa kuberikan sebagai anak.

“Mak?” panggilku lagi. Baru aku sadar, salamku ketika masuk tadi tak dijawabnya. Apa ibuku tertidur di atas kursi roda? Sepertinya tidak, sebab kepalanya masih tegak dan dari pantulan dinding kaca dapat kulihat matanya mengedip-edip.

“Ah, ya, ya!” dia menoleh dan menyahut tergeragap, seakan kehadiranku membuatnya teramat kaget.

“Kau sudah pulang?”

Aku mengangguk. Usai bertanya singkat, ibu kembali menatap keluar. Kuikuti arah pandangnya dan mataku berakhir di taman apartemen di bawah. Tak ada pemandangan istimewa di sana. Hanya beberapa remaja yang duduk-duduk di bangku sambil bermain smartphone. Bocah-bocah bermain perosotan serta beberapa ibu yang tampak bercengkerama sambil berjemur dengan bayinya di bawah matahari sore.

Entah apa yang begitu menyita fokus ibu, menyedot seluruh perhatiannya hingga ia bersikap acuh tak acuh padaku.

Arsip Cerpen di Indonesia