Hikayat Jagal

Lima tahun berselang. Seiring berlarinya waktu, banyak orang yang mulai bekerja sebagai jagal. Barangkali, peruntungan di pasar tidak memihak pada mereka. Bahkan, bocahbocah usia lima belas tahun sudah dilatih menjadi jagal. Mereka dilatih di sebuah padepokan sederhana di ujung kampung. Letaknya cukup tersembunyi di dalam wana. Jauh dari ingar-bingar masyarakat.

Kulihat, bocah-bocah itu giat berlatih. Peluh tak menyurutkan tekad mereka. Latihan demi latihan rutin dilaksanakan. Berbagai jurus andalan kerap diajarkan. Hal itu supaya mereka menjadi jagal nomor satu di kampungku. Menggantikan Bang Slamet yang tubuhnya telah bau tanah.

“Hei, Kenapa pukulan kau lemah?” Bang Slamet menampar wajah seorang bocah yang sedang berlatih pukulan. “Kalau begini terus, kau bisa jadi produk gagal. Kau bakal dibunuh oleh pencopet dan musuh-musuhmu yang lain.”

“Maafkan aku, Bang,” sahut bocah itu, menyesal.

“Ulangi lagi. Yang kejam, dong!”

Bocah itu mengangguk, setengah gemetar.

Aku bersandar pada tiang penyangga padepokan. Memperhatikan rutinitas latihan dari kejauhan. Tiba-tiba, Bang Slamet memanggilku. Aku segera turun dari padepokan, menuju tanah lapang; tempat jagal-jagal itu berlatih.

“Ada apa, Bang?” tanyaku, penasaran.

Bang Slamet menyulut rokok. Duduk bersila di tanah lapang, di depan jagal-jagal yang berlatih pukulan.

“Ada job untukmu,” ujar Bang Slamet. Asap mengepul dari mulutnya. “Seorang Bos Besar hendak mengirim barang dengan kapal pesiar. Mereka mengirim dua puluh kilo ganja dari Tirai Bambu ke negara kita. Dan membutuhkan pengamanan. Aku sengaja menugaskanmu.”

Otakku mencerna penjelasan Bang Slamet dengan saksama.

“Tentu aku tak bisa melakukannya sekarang. Tubuhku sudah rapuh. Seorang jagal kelas kakap tak bisa dikalahkan dengan apa pun, kecuali usia. Ya. Seberapa tangguh jagal itu dapat bertahan, membunuh ratusan penjahat, menangkap ribuan pencopet, mereka tetap tidak bisa melawan kodrat Tuhan.

“Oleh sebab itu, aku memerintahkanmu. Tenang saja. Kau tak bakal sendirian. Aku telah memerintahkan sepuluh jagal terbaik untuk menemanimu. Rohkim, kuharap kau memberikanku yang terbaik.”

Arsip Cerpen di Indonesia