Sesungguhnya, aku tidak yakin dengan tugas berat yang dibebankan oleh Bang Slamet padaku. Aku menjadi jagal bukan demi kejahatan. Tapi, aku tak dapat mengelak. Biar bagaimana pun juga, tugas tetaplah tugas. Harus dilaksanakan. Semua jagal yang dilatih tidak satu pun berani menolak tugas yang dibebankan pada mereka. Itulah aturan terakhir seorang jagal. Dan, tugas itu harus berhasil, selayaknya slogan Kopassus: lebih baik pulang nama daripada gagal di medan tugas. ***
Kapal pesiar berangkat dari Tirai Bambu ke Indonesia. Selama perjalanan, jagal anak didik Bang Slamet menyelinap dari pelabuhan kecil yang letaknya amat rahasia. Tidak sulit menyelundupkan ganja dari negara sebe- lah. Selain memakai uang tutup mulut—yang jumlahnya besar— kami dapat mengancam para petugas dengan ancaman pembunuhan. Terdapat jutaan jagal di tiap negara. Semuanya terkoneksi dengan baik, seperti umumnya organisasi gelap. Mereka tidak dapat dikalahkan. Dan selalu meneror kapan pun dan di mana pun mereka mau.
Malam harinya, aku dan jagaljagal lain duduk di dalam kabin. Bang Slamet kerap menghubungiku, menanyakan kabar tugas. Aku tidak terlalu peduli. Hanya kujawab masih aman. Dan telepon mati. Satu jam lagi Bang Slamet telepon dan kujawab serupa. Kukatakan bahwa keadaan masih aman dan tidak ada yang perlu ditakutkan.
Beberapa jam berlalu. Kolegakolegaku membuka ransel. Mengeluarkan beberapa botol arak dan obat-obatan terlarang. Aku ditawari minum. Tapi, aku menolak. Aku tidak minum seperti itu. Mereka justru mencemoohku. Sarkas.
“Apa Bang Slamet tak salah memilihmu menjadi komandan tempur? Kau takut mabuk begini. Hahaha,” sindir salah seorang jagal. Disusul gelak tawa oleh jagal-jagal yang lain. Seorang dari mereka mengacak-acak rambutku.
Aku bersikap tak acuh, tidak ingin bergulat mulut.
Meski kebiasaan jagal begitu, aku tetap menolaknya. Aku tidak minum—maksudku mabuk. Apalagi mengonsumsi obat-obatan terlarang. Tidak sama sekali. Hal itu yang tidak kusukai dari menjadi jagal; mabuk-mabukan dan nyabu.
Yang lebih parah dari itu, mereka tidak mendirikan salat. Atau mengunjungi gereja. Sebab, mereka tak beragama. Dalam organisasi jagal di kampungku, hanya aku dan Bang Slamet yang memercayai Tuhan. Bang Slamet memeluk Kristen, sedangkan aku, Islam. Bos jagal itu baru percaya Tuhan setelah membunuh seorang pendeta yang menceramahinya di hari silam. Keyakinan Bang Slamet tumbuh ketika pendeta itu—dengan sisa napas terakhir—mengutuk, “Celaka! Tuhan akan mengirim api untukmu! Ia menyesal telah memberimu sepasang mata. Sebab, kau tak pernah menggunakannya buat melihat Tuhanmu.”