Hikayat Jagal

Kehidupan jagal penuh dengan kegelapan. Mereka hanya mengandalkan otot, bukan pikiran. Dan mereka juga tak punya mata hati. Buta oleh harta dan kekuasaan. Arak jadi jamuan pesta dalam merayakan keberhasilan tugas. Mereka juga sering menyelundupkan obat-obatan terlarang. Pernah meniduri banyak wanita. Pula berjudi.

Pilihanku menjadi jagal ialah pilihanku sendiri. Tak ada sangkutpautnya dengan hal-hal gelap itu. Kupilih jadi jagal setelah orang tuaku meninggal dunia. Mereka mati ditusuk belati ketika bertarung dengan pencopet, sepuluh tahun belakang.

***

Pukul dua pagi. Perompak bersenjata menyelinap ke atas kapal menggunakan kaginawa.1 Pertarungan besar tak dapat dielakkan. Temantemanku beraksi. Baku hantam dengan belasan perompak berbaju malam. Rupanya, kabar bahwa Bos Besar akan bertandang ke Indonesia dengan membawa ganja senilai miliaran rupiah telah diketahui. Entah dari mana mereka tahu, aku tak peduli.

Aku tersudut di pojok kabin. Dua temanku terkena pelor di keningnya. Nyawanya lenyap. Pesta arak berbuah darah.

Bos Besar kabur, keluar dari kabin. Dua perompak lekas menghadangnya. Tanpa sempat berpikir, aku merubuhkan tubuhnya dengan dua kali pukulan; pukulan pertama mendarat di pelipis dan pukulan kedua menenggelamkan bola matanya. Satu perompak menodongkan revolver. Aku berbalik arah, menendang perompak itu hingga jatuh terjerembap ke laut lepas. Nyawaku selamat.

Namun, aku tak menyadari satu hal. Salah satu perompak memukul punggungku. Aku jatuh tertiarap. Revolver berhadapan dengan wajah panikku. Sempat kutengok, mencari kemungkinan bantuan. Sialnya, lima temanku telah terbunuh. Beberapa pelor mengoyak tubuh mereka. Di bagian kening, perut, lambung, dan hati. Sebagian lagi masih bertarung dengan kematian di dalam kabin.

“Menyerahlah, wahai ateis!” seru salah seorang perompak. Pucuk revolvernya mengarah tepat ke ujung hidupku.

“Jangan sebut aku ateis!” gertakku, lantang, sebelum pelatuk revolver itu ditekan, lalu pelor di dalamnya menusuk kepalaku.

“Aku bukan jagal yang tak beragama. Aku menjadi jagal hanya untuk menjaga kampungku!” Aku bukan ateis. Meski hidup sebagai jagal, sudah menjadi tugasku mengamankan kampung. Masyarakat telah hidup damai tanpa ada pencopet atau perusuh. Hanya itu yang kuharapkan.

Arsip Cerpen di Indonesia