Kartu Truf

Edo tertawa lega. Lelaki itu tersenyum lebar. Digosokgosokkannya telapak tangan dengan sikap puas.

“Aku tahu kau pasti mengerti, Dhe.”

Yang diajak bicara tidak menanggapinya. Edo melanjutkan kalimatnya.

“Mulailah berkemas-kemas. Akhir bulan kau harus keluar dari rumah ini.”

Dhea tersentak. Matanya terbelalak.

“Apa?”

“Akan kuperbaiki rumah ini sebelum menjualnya. Kau tak mungkin tetap di sini, kan?”

“Menjual? Aku tak pernah setuju menjual rumah.”

“Berarti kau harus menyetujuinya.”

“Hasil penjualan akan dibagi rata, Dhe,” sela Donny, “Kau bisa mencari tempat tinggal lain dengan bagianmu. Rumah ini terlalu besar untuk seseorang yang belum menikah.”

“Kalian ingin mengusirku dari rumahku sendiri?”

Edo tersenyum.

“Kau salah. Seperti kata Rissa, rumah ini bukan hanya milikmu.”

Tiga orang itu tidak memedulikan tatapan penuh amarah si adik. Rissa bangkit dan membuka pintu. Seorang pria menyambut kedatangannya.

“Sudah selesai?”

Rissa mengangguk. Laki-laki itu meninggikan suaranya.

“Anak-anak, ayo pulang.”

Derap langkah kaki berlari mendahului kemunculan tiga orang bocah. Suami istri tersebut berlalu dengan anak-anak mereka.

“Aku juga pulang,” kata Donny, “Ikut,Ed?”

“Tentu.”

Keduanya pergi dengan keluarga masing-masing tanpa mengacuhkan Dhea.

***

Mata Dhea menelusuri daftar menu. Selesai menulis pesanan dipanggilnya pelayan.

“Di mana kamar mandi?” tanyanya sebelum si pelayan pergi.

“Sebelah sana, Bu,” jawab yang ditanya sambil menunjukkan arah.

Arsip Cerpen di Indonesia