Kartu Truf

“Mau ke mana?”

“Pulang. Ada yang harus aku lakukan.”

Ira menatap makanan Dhea yang belum disentuh.

“Tapi kau belum makan.”

Dhea menggeleng.

“Sampai nanti, Ir. Aku buru-buru.”

Tanpa memberi kesempatan Ira mencegahnya lebih lanjut, Dhea bergegas berjalan ke kasir untuk membayar pesanan. Di luar, dihentikannya taksi yang melintas, membuka pintu kemudian duduk di kursi belakang. Tatapan Dhea tertuju ke gedung-gedung di sisi jalan. Gadis itu termangu. Ia teringat sesuatu yang dilihatnya beberapa bulan lalu. Sesuatu yang sebenarnya ingin dirahasiakannya.

Kendaraan itu berhenti di depan rumah. Dhea turun setelah membayar ongkos taksi. Ia masuk, naik tangga ke lantai atas. Si gadis menarik laci di kamarnya dan mengambil amplop yang tersimpan. Dibukanya.

“Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini tapi kau memaksaku,” guman Dhea sambil mengamati isinya satu per satu.

***

Dhea menunggu sampai akhir bulan sebelum memulai rencananya. Satu jam setelah makan malam dihubunginya Edo. Teleponnya tak diangkat meski sudah berdering sekian lama. Gadis itu mematikan ponsel lalu mencoba lagi. Sekali ini ia tidak perlu menunggu. Pertanyaan bernada jengkel terdengar dari seberang.

“Ada apa, Dhe?”

“Ada yang ingin aku bicarakan. Datanglah ke sini.”

“Bicarakan saja lewat telepon.”

“Tidak bisa. Ini tentang rumah.”

Dhea memberi tekanan pada kata ”rumah”.

Terdengar gerutuan di seberang sebelum Edo menjawab.

“Baiklah.”

Setengah jam kemudian terdengar mesin mobil dimatikan di depan rumah. Edo keluar dari pintu pengemudi. Dhea membuka pintu depan sebelum lelaki itu menekan bel. Edo melangkah masuk. Diedarkannya mata ke sekeliling ruangan. Keningnya berkerut.

“Belum berkemas?” tanyanya sambil menatap Dhea. “Kau harus keluar akhir bulan ini, Dhe.”

“Kita bicarakan nanti saja,” elak Dhea, “Ada yang harus kukerjakan dulu.”

Arsip Cerpen di Indonesia