Dhea naik ke atas meninggalkan Edo yang beranjak ke dapur. Diambilnya minuman kaleng dari kulkas lalu kembali ke ruang duduk. Dua menit berlalu. Tidak ada tanda-tanda Dhea akan muncul. Edo mulai tak sabar.
“Dhea, sedang apa kau di atas? Cepatlah. Aku ingin pulang,” teriaknya.
Yang dipanggil turun. Sebuah amplop terselip di tangannya.
“Tadi aku menelepon Donny dan Rissa sebelum kau datang. Kuharap kita bisa bersepakat sebelum mereka tiba,” kata Dhea.
Edo terheran-heran.
“Bersepakat tentang apa?”
Dhea meletakkan amplop ke meja lalu duduk di depan Edo. Laki-laki itu semakin tak mengerti.
“Apa ini?”
“Lihat saja.”
Edo mengambil dan membukanya. Seketika wajahnya pias. Suaranya gemetar.
“Siapa yang memberikan ini padamu?”
“Tak seorang pun. Aku lihat sendiri. Gambaran manis keluarga yang menikmati panorama sore, kan? Bocah lelaki berlarian di dekat orang tuanya, seorang pria berjalan berdampingan dengan wanita yang menggendong bayi mungil mereka.”
Dhea tersenyum simpul.
“Apa istrimu tahu tentang keluarga rahasiamu?”
Lawan bicaranya membisu.
“Sepertinya tidak,” Dhea tertawa kecil. “Kau benar-benar hebat bisa menyimpannya serapi ini.”
“Apa maumu?” tanya Edo pasrah.
“Batalkan rencana menjual rumah. Itu harga yang sepadan untuk keutuhan keluargamu.”
Meski kakaknya tak bereaksi, Dhea tahu pria itu tak punya pilihan lain.
“Rissa dan Donny pasti menolak,” gumam Edo.
“Buat mereka setuju.”
Bel berbunyi. Dhea bangkit, mengambil foto-foto dari tangan Edo lalu mengantonginya. Ia berkata riang sebelum pergi untuk membuka pintu depan.
“Mereka datang. Jangan lupa dengan kesepakatan kita, ya.”
Daisy Rahmi kelahiran Manado. Kini tinggal di Jakarta.